Tanpa Kesehatan Segalanya Tidak Ada Artinya
📅 Sabtu, 13 Mar 2021, 08:44 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rupSelain itu, bisa meningkatkan ekonomi, akses pelayanan kesehatan, angka harapan hidup, dan penciptaan lapangan kerja. Kemudian, menurunkan porsi out of pocket (OOP) dalam total belanja kesehatan (TBK). Dulu orang masuk rumah sakit harus punya cash karena tidak ada yang menjamin.
Bapak juga pernah menggeluti bidang riset dan teknologi. Bagaimana pengalaman tersebut bisa diimplementasikan dalam mengatasi tantangan BPJS Kesehatan?
Ekosistem digital JKN ingin sebetulnya menggunakan inovasi teknologi terutama digitalisasi dalam proses dan pengembangan JKN untuk mengurangi antrean. Kami akan menggunakan sistem antrean online dan payment point online banking, tidak perlu antre. Kita ingin mobile JKN untuk mendaftar, bertanya, dan konsultasi. Ini termasuk juga ingin kerja sama dengan rumah sakit agar bisa mengurangi antrean.
Beberapa kasus pernah ada antre 5-6 jam. Ke depan diupayakan tidak terlalu lama, menggunakan mobile JKN untuk bisa ke rumah sakit fasyankes primer. Dengan ekosistem digital masyarakat bisa tahu dokter layanan primer, jika merujuk juga tahu kondisi apakah tempat tidur rumah sakit penuh atau tersedia.Kalau mau dilayani masyarakat sebaiknya harus tahu kapan akan dilayani dokter tertentu, sehingga bisa mengatur kira-kira waktu harus ke rumah sakit.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di sisi lain, kami akan mengembangkan artificial intelligent, sehingga klaim bisa lebih cepat dan akurat dan tentunya diharapkan dapat mengurangi dispute atau potensi kecurangan. Kami tahu tidak ada niat curang (dari rumah sakit pengaju). Akan tetapi karena tidak tahu atau masalah administrasi kemudian menjadi persoalan.
Berbagai pihak akan dilibatkan. Bagaimana caranya
Kami ingin membuat atau menciptakan suasana BPJS Kesehatan milik bersama, bukan milik pengurus, (bukan) milik pemerintah saja, tapi milik seluruh pemangku kepentingan, terutama masyarakat. Ini termasuk milik rumah sakit. Ini berarti dokter juga memiliki BPJS Kesehatan. Kalau BPJS Kesehatan untung atau rugi, semua pemangku kepentingan juga ikut merasakannya dan mengupayakan penyelesaian.
Sebaiknya Anda baca juga:
Itu bayangan. Maka, kami lontarkan gagasan engagement atau keterlibatan. Jadi berbagai lintas sektor, pemerintah pusat dan daerah, fasyankes dan berbagai macam asosiasi. Beberapa waktu lalu kami menggelar BPJS Kesehatan Mendengar. Ini membantu memetakan kebutuhan stakeholder untuk evaluasi, masukan, dan acuan mengelola program JKN-KIS lima tahun ke depan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan bila masukan yang sangat berharga tersebut
akan menjadi sasaran strategis jangka pendek, menengah, dan panjang BPJS Kesehatan. Tentunya sesuai dengan situasi, prioritas, dan kemampuan BPJS Kesehatan.
Di sisi lain, kami ingin data bisa dimanfaatkan. Satu hari lebih dari 800 transaksi data yang bisa di-capture BPJS Kesehatan. Ini jadi tambang emas penelitian. Nanti kami memberikan kepada para peneliti kesepakatan menganalisis data. Katakanlah bisa dirumuskan menjadi suatu policy paper dari pusat sampai pemda. Publikasinya, bisa dibicarakan.
Bisa dijelaskan tantangan lain BPJS Kesehatan ke depan?
Pertama, terkait kebutuhan dasar kesehatan dan rawat inap JKN kelas standar seperti dalam Perpres 64 tahun 2020. Kebutuhan dasar kesehatan untuk orang bisa menjalankan fungsinya sebagai manusia yang bisa berkarya, beraktivitas optimal. Rawat inap konsepnya tidak boleh membedakan pelayanan berdasarkan kemampuan ekonomi, kelas sosial ekonomi, agama, suku dan sebagainya. Misalnya, kalau orang sakit jantung yang memerlukan biaya tinggi, itu apakah merupakan kebutuhan dasar kesehatan atau tidak? Kalau iya, maka BPJS harus menjamin.
Selain itu, penyesuaian tariff sesuai dengan kemampuan tidak masalah. Kita tidak keberatan. Tapi keseimbangan antara iuran dan dana serta pengeluaran harus seimbang. Kalau tidak seimbang bisa jadi masalah. Harus ada indikator hospital-value base yang berbasis pada nilai kinerja rumah sakit. Sistem pembayaran saat ini, terkadang kapitasi di Puskesmas. Mohon maaf, kalau banyak yang sakit. Banyak yang datang ke fasyankes padahal butuh. Itu masih kurang di-support. Kami harus mencari cara agar bisa di-support, dokter senang, masyarakat senang. Itu tidak mudah. Tapi kami optimistis bisa secara bertahap diperbaiki mutu layanan kesehatannya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!