Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads
-

Saatnya Moratorium dan Minta Pemotongan Utang

31 Rabu, 07 Okt 2020, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Saatnya Moratorium dan Minta Pemotongan Utang Saatnya Moratorium dan Minta Pemotongan Utang Doc: ANTARA/APRILLIO AKBAR
Ket. MORATORIUM PEMBAYARAN UTANG I Deretan permukiman semi permanen penduduk miskin dengan latar belakang gedung bertingkat di kawasan Kuningan, Jakarta. Akibat pandemi Covid-19, Indonesia dipastikan memasuki resesi ekonomi. Pemerintah tidak perlu sungkan untuk minta keringanan kepada kreditor berupa pemotongan utang.

» Moratorium dan pemotongan utang baru harus dilakukan agar tidak default.

» Pembiayaan jangan terlalu bergantung pada utang, tapi optimalkan menagih piutang negara.

JAKARTA - Seruan Bank Dunia akan adanya potensi krisis baru akibat pandemi Covid-19 harus diwaspadai dan dijadikan sebagai bahan evaluasi dalam mengelola keuangan negara. Sebab, dari seruan tersebut, setidaknya ciri-ciri negara yang ekonominya mulai memasuki spiral pertumbuhan ekonomi lemah mirip dengan kondisi ekonomi Indonesia saat ini.

Tiga poin penting yang disampaikan Presiden Bank Dunia, David Malpass, itu terlihat pada defisit anggaran yang besar, pembayaran utang membebani keuangan negara, serta melonjaknya kredit macet di bank.

Perekonomian nasional Indonesia sendiri, defisit anggarannya sangat besar yaitu diperkirakan mencapai 1.039,2 triliun atau 6,34 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sedangkan pembayaran bunga utang tahun ini diproyeksikan sebesar 338,8 triliun rupiah. Begitu juga ratusan triliun kredit yang berpotensi macet, namun direlaksasi melalui restrukturisasi. Sementara total utang pemerintah per Agustus 2020 mencapai 5.594,9 triliun rupiah.

Menyikapi perkiraan ketidakpastian ekonomi yang meningkat itu, Bank Dunia mengimbau negara kreditor untuk memberikan keringanan pembayaran utang termasuk kemungkinan membatalkan utang atau moratorium kepada negara penerima pinjaman.

"Kita harus mengurangi tingkat utang, bisa melalui keringanan atau pembatalan utang," kata Malpass kepada harian bisnis Handelsblatt dalam sebuah wawancara.

Selain Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF) melalui Dewan Eksekutif pada 2 Oktober lalu kembali menyetujui penangguhan pembayaran utang 28 negara anggotanya untuk enam bulan kedua melalui skema yang dikenal dengan Catastrophe Containment and Relief Trust (CCRT).

Persetujuan tersebut mengikuti tahap enam bulan pertama terhitung sejak 14 April hingga 13 Oktober 2020 yang disetujui pada 13 April 2020, dan memungkinkan pencairan dana hibah dari CCRT untuk pembayaran pelunasan utang yang memenuhi syarat yang jatuh tempo kepada IMF dari 14 Oktober 2020 hingga 13 April 2021. Dananya diperkirakan mencapai sebesar SDR 161 juta atau sekitar 227 juta dollar AS.

Dengan tunduk pada ketersediaan sumber daya yang cukup di CCRT, keringanan pembayaran utang dapat diberikan untuk periode total dua tahun, hingga 13 April 2022 yang diperkirakan mencapai hampir SDR 680 juta atau 959 juta dollar AS.

Bantuan pada pembayaran utang akan membebaskan negara-negara anggota IMF dari langkanya sumber daya keuangan untuk membiayai upaya medis memerangi dampak pandemi Covid-19.

Dalam persetujuan tahap pertama, Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, meluncurkan upaya penggalangan dana yang mendesak agar CCRT bisa memberikan keringanan pembayaran utang hingga maksimal dua tahun.

"Ini akan membutuhkan komitmen sekitar SDR satu miliar atau sekitar 1,4 miliar dollar AS," kata Georgieva.

Sejauh ini, donatur telah memberikan kontribusi hibah dengan total sekitar SDR 360 juta, termasuk dari Inggris, Jepang, Jerman, Belanda, Swiss, Norwegia, Tiongkok, Meksiko, Swedia, Bulgaria, Luksemburg, dan Malta.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Gubernur Jabar Prihatin Banyak Warganya Terjerat Pinjol dan Judol

Gubernur Jabar Prihatin Banyak Warganya Terjerat Pinjol dan Judol

31 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.