Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
-

Pemerintah Jangan Terlalu Agresif Berutang

📅 Selasa, 29 Sep 2020, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pemerintah Jangan Terlalu Agresif Berutang Doc: Sumber: Kementerian Keuangan

» Dalam sembilan bulan, pemerintah sudah menerbitkan SBN sepuluh kali.

» Realisasi stimulus Pemulihan Ekonomi Nasional baru capai 38,6 persen.

JAKARTA - Pemerintah diimbau tidak terlalu agresif menarik pembiayaan melalui utang karena dikhawatirkan belanja tidak akan terserap seluruhnya hingga akhir tahun. Apalagi, penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) lebih banyak dibeli oleh Bank Indonesia (BI) sehingga membebani neraca keuangan bank sentral.

BI sendiri pada Senin (28/9) memproyeksikan neraca keuangannya akan defisit sebesar 21,8 triliun rupiah pada 2021 salah satunya terimbas penerapan kebijakan berbagi beban atau burden sharing untuk mendukung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menangani pandemi Covid-19.

Pakar ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Bambang Budiarto, mengatakan perilaku agresif pemerintah menarik pembiayaan utang melalui penerbitan SBN, menunjukkan sikap kepanikan para pengambil keputusan yang tengah berusaha mendorong ekonomi yang terjebak dalam krisis akibat pandemi Covid-19.

"Sebenarnya ini adalah sebuah indikator makro bahwa telah terjadi kepanikan di level pengambil kebijakan, baru sembilan bulan, tapi sudah 10 kali menerbitkan SBN. Sangat beralasan banyak yang meminta untuk tidak terlalu agresif seperti ini. Sebab faktanya, sampai menit menit akhir kuartal ketiga, pergerakan ekonomi ternyata belum signifikan, belum berbanding lurus dengan gelontoran beragam pembiayaan yang sudah dibuat dengan berbagai stimulusnya," kata Bambang.

Sementara itu, Manager Riset Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Badiul Hadi, kepada Koran Jakarta, Senin (28/9), mengatakan lambannya penyerapan belanja hingga Agustus 2020 seharusnya menjadi perhatian pemerintah agar tidak terlalu agresif menarik utang melalui SBN.

Realisasi belanja negara hingga 31 Agustus 2020 baru mencapai 1.534,7 triliun rupiah atau 56,0 persen dari total pagu APBN pada Peraturan Presiden (Perpres) 72 tahun 2020 sebesar 2.739,2 triliun rupiah. Sedangkan stimulus penanganan Covid-19 dari 695,2 triliun rupiah yang dianggarkan, baru terserap 268,3 triliun rupiah atau 38,6 persen.

Untuk itu, pemerintah harus melakukan kajian mendalam terhadap kebijakan utang termasuk SBN dalam pembiayaan defisit APBN 2020 guna menahan bertambahnya beban bunga utang di kemudian hari.

"Pemerintah perlu waspadai oustanding utang yang mayoritas adalah SBN, ketahanan keuangan negara sangat rentan (vulnerable)," kata Hadi.

Saat ini, jelasnya, pemerintah telah memosisikan pembiayaan utang sebagai instrumen kebijakan fiskal untuk mempercepat penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi. Hal itu nampak jelas dari pembiayaan utang yang meroket tajam dari 402,1 triliun rupiah di 2019 menjadi 1.225,5 triliun rupiah di 2020.

"Jika pemerintah tidak mampu menahan untuk mengeluarkan SBN itu akan sangat berbahaya, karena perekonomian global yang serba tidak menentu. Jika SBN tidak terkontrol akan berbahaya, terlebih jika mayoritas dimiliki asing risikonya semakin besar," paparnya.

Tidak Tergesa-gesa

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
Verifikasi Calon Penerima P...
Daerah
BPBD Cilacap: Dua Desa Terd...
Daerah
Pascagempa 6,7 Sulteng Bant...

KPK Sita Aset Milik Bupati Pekalongan Nonaktif Fadia

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Nasional
KPK Sita Aset Milik Bupati ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Gempa Magnitudo 5,1 Kembali Guncang Sulawesi Tengah

Gempa Magnitudo 5,1 Kembali Guncang Sulawesi Tengah

17 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.