Pola Kerja Konsorsium Riset Harus Dilanggengkan
📅 Senin, 17 Agu 2020, 21:03 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: Koran Jakarta/Muhamad Marup
JAKARTA - Perekonomian Indonesia harus mulai bertransformasi menjadi berbasis inovasi agar mampu menjadi negara dengan tingkat perekonomian tinggi. Untuk mencapai hal tersebut pemerintah perlu melanggengkan pola kerja dari ekosistem penelitian dan inovasi yang dilakukan Konsorsium Riset dan Inovasi penanganan Covid-19.
"Kita ingin ekosistem penelitian inovasi ke depan ini seperti apa yang sekarang ini kita capai dalam waktu yang sangat relatif singkat," kata Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi, Ali Ghufron Mukti, pada acara webinar di Jakarta, Minggu (16/8).
Ghufron mengakui pola kerja Konsorsium Riset dan Inovasi lahir atas desakan kondisi. Menurutnya, pola kerja yang saat ini harus dilanggengkan bahkan dalam pola kerja Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
"Pola kerja dan ekosistem yang terjadi di konsorsium kita langgengkan kemudian ke depan dengan brin beserta penyempurnaan-penyempurnaan," jelasnya.
Lebih jauh Ghufron menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi anatar pemerintah, peneliti, dan industri atau triple helix. Menurutnya, para peneliti Indonesia kerap memiliki agenda masing-masing sehingga belum memiliki visi bersama.
Ia memaparkan orientasi dari triple helix adalah melahirkan produk inovasi yang sangat dibutuhkan masyarakat. Adapun pemerintah bisa mendukung kolaborasi tersebut dengan mendampingi hal-hal teknis terkait pengujian produk inovasinya.
"Dengan begitu pengguna bisa memanfaatkan tanpa kesalahan. Ekosistem kondusif ini bisa dilanggengkan menjadi pola kerja dan menjadi kultur ke depan," ucapnya.
Perlu diketahui, pemerintah melalui Kementerian Ristek dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) menginisiasi pembentukan Konsorsium Riset dan Inovasi penanganan Covid-19. Kehadiran konsorsium ini mampu mendukung tugas-tugas tenaga medis dengan melahirkan produk-produk inovasi bersifat jangka pendek, menengah, dan panjang.
Sekretaris Kemenristek/BRIN, Mego Pinandito, mengatakan kegiatan riset harus sinergis antara tiap lembaga penelitian baik di tingkat kementerian atau lembaga maupun perguruan tinggi. Menurutnya, program riset juga harus berkesinambungan mengingat produk-produk yang dihasilkan membutuhkan proses panjang.
Ia menambahkan pihaknya telah menyediakan katalog elektronik yang memuat produk-produk hasil inovasi. Ia menjamin apa yang ada di dalam katalog tersebut merupakan produk inovasi yang siap dikomersialisasikan.
"Jadi katalog elektronik bukan produk inovasi yang mendapat keistimewaan. Itu merupakan produk yang memang bisa disandingkan dengan produk-produk luar negeri," tandasnya. ruf/N-3
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!