Bersantap dalam Suasana Kampung di Mang Engking
📅 Kamis, 12 Mar 2020, 01:00 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoMenikmati masakan khas Mang Engking akan lebih afdol jika dilakukan beramai-ramai dengan teman atau kerabat. Mata Anda akan dimanjakan alam desa yang alami sekaligus ajang refresing sambil liburan.
Udang Bakar Madu Jadi Menu Paling Laris
Gubug Makan Mang Engking Pusat ini sesungguhnya terlahir secara tidak sengaja. Ya, Engking Sodikin atau yang lebih dikenal dengan Mang Engking secara kebetulan mendirikan restoran khas bernuansa alam dengan ciri gubug-gubug di atas kolam. Mang Engking berasal dari Tasikmalaya. Awalnya Mang Engking dan beberapa anggota keluarganya hijrah ke Yogyakarta. Tujuannya ke Yogyakarta untuk mengembangkan keahliannya dalam bidang budi daya udang dan ikan air tawar.
Sebelum hijrah, Mang Engking yang lulusan SD, sudah berprofesi sebagai pembudidaya udang dan ikan air tawar sejak tahun 1988. Ilmu budi daya tersebut dia dapat secara turun-menurun dari keluarganya.
Lebih mendetail Manajer Operasional Gubug Makan Mang Engking Pusat, Donna Yusnindar menjelaskan di awal 1997 Mang Engking mulai membina beberapa petani di sekitar tempat tinggalnya di daerah Sleman, untuk belajar membudidayakan udang galah yang kemudian memasarkan udang galah tersebut ke Bali. Setelah terjadinya tragedi bom Bali I, Mang Engking kesulitan memasarkan udang galahnya masuk ke Bali.
Dengan kesulitan ini, dia tidak putus asa dan berusaha menemukan solusi jitu. Langkah cepatnya, Mang Engking akhirnya mencoba memasarkan sendiri hasil udang galahnya. "Ketika berprofesi sebagai pembudidaya udang dan ikan air tawar, secara tidak sengaja banyak orang yang suka memancing ke kolam Mang Engking. Mereka senang menghabiskan waktu luang hingga larut malam. Hingga pada suatu ketika mulailah orang ingin makan udang sambil memancing untuk mengisi perut mereka yang keroncongan," kata Donna kepada Koran Jakarta, di Sleman, Selasa (3/3).
Untuk memenuhi permintaan tersebut, tambah Donna, istri Mang Engking yang memasak seadanya ala wong ndeso di rumah, harus mengantarkan pesanan tersebut ke kolam yang jaraknya cukup jauh.
Akhirnya, tambah Donna, saking banyaknya permintaan, mulailah muncul gubug-gubug di atas kolam. Dari sinilah mulai dicoba memasarkan sendiri udang galah dan ikan gurami, yang hingga saat ini menjadi menu unggulan Mang Engking.
Membuka Cabang Dalam waktu enam bulan restoran Mang Engking booming tanpa pernah melakukan promosi. Berangsur-angsur gubug-gubugnya sudah tidak dapat mengikuti perkembangan pelanggan lantaran saking banyaknya.
Untuk memperbesar kapasitas usahanya, Mang Engking membuka cabang di beberapa kota lain. Supervisor Gubug Makan Mang Engking Pusat, Irfan Nur Fathoni menjelasakan hingga kini Mang Engking sudah mempunyai sebanyak 24 cabang. Sejumlah cabang tersebut, antara lain berada di Yogyakarta, Pandaan, Kebumen, Depok, Bandung, Jakarta, Bekasi, Cikarang, Solo, Surabaya, Bali, Lubuklinggau, dan yang paling anyar di Kota Batu. Soal kelebihan udang bakar madu sehingga menjadi yang paling laris, Irfan menjelaskan menu ini menjadi ciri khas Gubug Makan Mang Engking. Ciri khasnya, ada di bumbu manis pedas. Sekarang banyak kompetitor yang menyediakan menu sama dengan harga yang juga hampir sama.
"Kami yang pertama menyiapkan menu udang bakar madu dan sekarang banyak yang mengikutinya," kata Irfan. Terkait dengan persaingan pada produk makanan serupa, Irfan mengatakan pengelola terus berusaha meningkatkan pelayanan kepada para tamu yang bersantap.
"Yang jelas kami dari pelayanan harus prima. Cita rasa yang menjadi ciri khas kami, terus dipertahankan," katanya. Selain itu, Donna menyakini tempat dan suasana di Mang Engking sulit disaingi.
"Kami yakini, suasana kampung di sini, kami juara.Tempat kami ramah lingkungan dan tahan gempa. Ini bukan bangunan gedung, tapi dari bambu asli dari sekitar sini. Bahannya kebanyakan dari sini. Alang-alangnya dari Jawa Timur," kata Donna
Gurami Bakar, Santapan yang Menyehatkan
Gubug Makan Mang Engking bisa dicapai dengan menyusuri Jalan Godean hingga di perempatan Km 14, belok kanan. Perempatan ini biasa disebut perempatan Gedongan. Lanjutkan perjalanan dari perempatan ini sampai sejauh sekitar 3 Km.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!