Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Menyambut Tahun Baru 2020

📅 Selasa, 31 Des 2019, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Menyambut Tahun Baru 2020 Doc: Koran Jakarta/ Ones

Oleh: Paulus Mujiran

Setelah hiruk pikuk di tahun politik 2019 sebentar lagi kita memasuki tahun 2020. 1 Januari 2020 merupakan momentum yang ditunggu-tunggu di seluruh penjuru dunia.

Lonceng penanda akhir tahun 2019 segera berdentang. Sebagai tahun politik sepanjang tahun 2019 memiliki nuansa yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Rasa panas sebagai tahun politik pun sisanya masih dapat kita rasakan. Setidaknya ada tiga persoalan besar yang terjadi di tahun 2019 yakni, Pertama, perjalanan tahun politik.

Kedua, meningkatnya intoleransi keagamaan dan ketiga, bangkitnya kaun milenial yang mendapat panggung besar. Berita terkait intoleransi mewarnai sepanjang tahun 2019 dengan beragam bentuknya.

Terkait tahun politik kita merasakan kegaduhan yang luar biasa semenjak masa persiapan pemilihan umum (hingga) pelaksanaan. Dari segi proses politik kita hanya memiliki dua pasang calon yakni petahana Joko Widodo yang berpasangan dengan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Kyai Haji Ma'ruf Amin serta Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno.

Karena hanya tersedia dua pasang calon tak pelak polarisasi politik memecah terutama dimulai dari elit politik hingga ke akar rumput pendukung.

Begitu juga dengan pelaksanaan pemilu ketika digelar serentak untuk presiden, wakil presiden, anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.

Inilah pemilu bersejarah pertama yang digelar secara serentak di tanah air semenjak Indonesia merdeka. Kerumitan pun terjadi terutama karena besarnya kertas suara yang harus dicoblos pemilih. Meski rumit namun partisipasi datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) termasuk tinggi mencapai 81 persen.

Beban berat dialami oleh para petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Lebih dari 2527 orang petugas KPPS meninggal dunia karena sakit dan kelelahan dan 11.239 jatuh sakit.

Tidak hanya berhenti sampai disitu, pemilu 2019 diwarnai dengan gesekan bermuatan SARA yakni suku, agama, ras, antar golongan. Maklum semenjak beberapa pilkada daerah mempermainkan isu SARA manuver politik bernuansa SARA berhasil menggiring opini publik untuk memenangkan pasangan calon.

Tak pelak strategi serupa akan terus dimainkan sepanjang menguntungkan calon yang diusung. Strategi serupa hendak diterapkan dalam pemilu terutama Pilpres. Lupa bahwa akibat bermain politik SARA memiliki dampak besar di masyarakat.

Polarisasi terpecahnya masyarakat karena isu agama lebih sulit untuk dipulihkan karena menyangkut paham dan keyakinan seseorang pada agama yang dianutnya.

Permainan isu SARA ini mendapat panggungnya di media sosial karena masing-masing pihak memiliki tim media sosial untuk saling memprovokasi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Banten Siap Sambut Investor Asing

44 menit yang lalu | Sujar

Megapolitan
Banten Siap Sambut Investor...
Megapolitan
Hasil Reses Belum Terserap ...
Megapolitan
Indeks Demokrasi Jakarta di...
Olahraga
Salah Tiba di Turki, Selang...

Terindikasi Main Judi Online, Nyaris 1,5 Juta Penerima Bansos Ditahan Bantuannya

Terindikasi Main Judi Online, Nyaris 1,5 Juta Penerima Bansos Ditahan Bantuannya

05 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.