Menandai Kehidupan Masif di Masa Purba
Jumat, 02 Nov 2018, 01:00 WIB | Oleh: Tim PenulisDalam kurun lima tahun terakhir, desa ini menimbulkan kejutan demi kejutan bagi kalangan peneliti prasejarah. Terdapat demikian banyak temuan fosil fauna prasejarah, yang mengindikasikan daerah itu jutaan tahun lalu adalah pusat kehidupan masif masa purba.
Dalam kesempatan tersebut, Sri Sumarni mengapresiasi kegiatan yang dilakukan Desa Wisata Banjarejo. Desa wisata yang baru dicanangkan dua tahun lalu ini sudah berkembang pesat. Jumlah pengunjung dan pendapatannya pun mencapai 300 juta rupiah.

"Sungguh luar biasa, semoga ke depannya bisa lebih ramai lagi. Pendapatan bisa lebih dari satu miliar rupiah," ungkapnya.
Ia berharap kegiatan seperti yang dilakukan Desa wisata Banjarejo bisa ditiru desa lainnya di Kabupaten Grobogan. "Jika ada sepuluh desa seperti Banjarejo ini, saya yakin Grobogan akan semakin hebat," ujarnya.
Achmat Taufik yang juga selaku Ketua Panitia menjelaskan, kegiatan yang pertama kali diselenggarakan di Kabupaten Grobogan ini berawal dari banyaknya jerami di sekitarnya yang tidak terpakai. Bahkan warga sampai membakarnya. "Daripada dibakar, seperti ini kan lebih bermanfaat," jelasnya.
Sebanyak 24 binatang purba dan 35 variasi dari jerami ditampilkan dalam acara ini.
"Ke depannya semoga bisa menjadi even yang lebih besar lagi. Syukur bisa nasional, bahkan internasional," ungkapnya.
Sri mengagumi hasil karya replika berbagai hewan purba yang dipajang di lokasi festival. Bahkan saat berkeliling meninjau lokasi festival, ia sempat beberapa kali minta diambil fotonya dengan latar belakang replika hewan dari bahan jerami tersebut. pur/R-1
Karya Seni yang Bisa Dinikmati
Sebagai penyangga pangan nasional, Kabupaten Grobogan memiliki lahan pertanian yang luas. Namun, ketersediaan jerami (batang padi) pasca panen kerap dibakar petani.
Asap pembakaran inilah yang kerap dikeluhkan pengguna jalan. Namun, jerami kini dimanfaatkan dalam FJ 2018.
"Selama ini kita melihat jerami hasil panen dibiarkan menggunung atau dibakar, paling-paling juga untuk makanan ternak. Namun melalui FJ, kita sulap menjadi karya seni yang bisa dinikmati masyarakat," ujar Taufik.

Sebanyak tujuh dusun di Desa Banjarejo ini, menjadi peserta dalam festival jerami tersebut. Beberapa lainnya merupakan peserta dari luar Desa Banjarejo dan satu peserta dari luar Kabupaten Grobogan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!