Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Melihat Fenomena Gerhana Bulan Biru Kemerahan

📅 Selasa, 30 Jan 2018, 01:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Melihat Fenomena Gerhana Bulan Biru Kemerahan Doc: istimewa

Fenomena alam Super Blue Blood Moon tak boleh dilewatkan begitu saja. Fenomena langka ini akan berlangsung pada 31 Januari 2018, yang sebelumnya pernah terjadi dan diamati para ilmuwan pada 31 Maret 1866.

Seperti diketahui, keistimewaan fenomena ini karena pada saat berlangsung, akan terjadi tiga pertistiwa alam secara bersamaan, yakni Supermoon, Blue Moon, dan Gerhana Bulan Total.Itu sebabnya, gabungan peristiwa ini disebut sebagai Super Blue Blood Moon atau gerhana Bulan biru kemerahan.

Fenomena alam ini tergolong langka, bahkan tercatat kemunculan fenomena serupa terakhir terjadi sekitar 152 tahun lalu.

Menariknya, keindahan dari fenomena alam ini abadi meski jarang sekali terjadi. DilansirSpace.com, fenomena alam Super Blue Blood Moon secara tampilan hampir sama dengan fenomena alam yang terjadi di Amerika Serikat pada 2017, yaituGreat American Solar Eclipse(GASE). Dampak dari fenomena alam itu, bulan menghalangi cahaya matahari dan permukaan tanah menjadi dingin.

NASA dalam keterangannya menjelaskan pada 31 Januari nanti bulan akan mengalami efek yang sama seperti GASE, karena Bumi menghalangi sinar matahari yang menerangi dan memanaskan Bulan, sehingga permukaan Bulan akan menjadi lebih dingin.

"Selama gerhana Bulan, suhu dari permukaan Bulan seakan berubah dari sepanas oven menjadi sedingin lemari es hanya dalam beberapa jam," ujar salah satu peneliti NASA, Noah Petro.

Para peneliti juga sangat menyambut baik kejadian alam super ini, dan berencana untuk memanfaatkan momen tersebut untuk mempelajari kembali Bulan menggunakan kamera pelacak panas.

NASA mengungkapkan saat kejadian Super Blue Blood Moon berlangsung, para peneliti ingin memeriksa suhu permukaan Bulan yang menurun secara drastis saat gerhana berlangsung.

Nantinya, Petro dan rekan-rekanya akan melakukan penelitian terhadap perubahan panas yang terjadi pada beberapa titik di permukaan Bulan, dengan mengambil tempat di Haleakala Observatory, Maui, Hawaii.

Hal ini menarik untuk diamati, karena cepatnya penurunan panas pada permukaan Bulan tergantung pada ukuran bebatuan dan karakteristik dari material yang dikandungnya, termasuk komposisi dan teksturnya.

Data yang didapatkan diharapkan dapat membantu NASA memahami karakteristik dari regolith,campuran dari debu dan bebatuan lapuk yang melapisi permukaan Bulan, serta mengapa hal tersebut selalu berubah.

Sehingga melalui penelitian ini akan bermanfaat untuk mencari titik pendaratan yang baik di Bulan. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat membantu para peneliti untuk memahami evolusi dari permukaan Bulan. "Studi ini bisa membantu kami untuk menjelaskan seberapa besar pengaruh yang diperlukan untuk mengubah permukaan Bulan terkait dengan hal-hal yang sifatnya geologis," ungkap Petro.

Menghiasi Langit Indonesia

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Posko Siaga PLN Istana Waki...
Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur   

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.