Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
-

Empuknya Sate Hadori Stasiun Bandung

📅 Senin, 08 Jan 2018, 01:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Empuknya Sate Hadori Stasiun Bandung Doc: KORAN JAKARTA/TEGUH RAHARDJO

Menu sate sudah melegenda di beberapa kota di Indonesia. salah satunya adalah Sate Hadori di Bandung.

Asap mengepul dari depan kedai warung Sate Hadorie. Puluhan sate nampak sedang dibakar diatas pembakaran, yang dikipasi oleh kipas angin listrik.

Hasilnya, selain asap tebal yang mengepul, aroma bakaran daging kambing pun tercium di kawasan terminal dan stasiun Bandung.

Warga Bandung atau penumpang kereta api sudah paham, jika asap sate itu berasal dari warung sate Hadori. Warung sate yang cukup legendaris ini sudah ada sejak tahun 50-an. Tidak ada catatan pasti kapan warung sate legendaris ini mulai mangkal di kawasan stasiun Bandung itu.

Sejak beberapa bulan terakhir kedai sate Hadorie ini sudah berubah penampilan. Kedai yang lama kini nampak lebih modern. Tapi tetap satu yang dipertahankan yakni bagian meracik dan memotong sate yang tetap berada di dekat pintu masuknya.

Saat pengunjung datang, akan disambut dengan pembakar sate yang panjang. Sementara memasuki kedai sate Hadorie, dibalik pintu langsung disambut dengan meja besar yang berisi tumpukan daging yang sudah ditusuk dengan tusukan sate dari bambu.

Sementara itu dibagian atasnya tergantung paha daging kambing. Daging kambing memang disayat langsung dari paha daging yang digantung itu.

Dipotong kecil lalu ditusuk. Proses meracik ini jelas dilihat oleh pembeli.

"Tujuannya memang sengaja untuk memberitahukan kepada konsumen jika daging yang disajikan benar-benar daging kambing yang masih segar dan muda," kata pengelola sate Hadori, Fahmi Garnadi, 34 tahun. Ia sendiri terus memantau para pekerjanya dalam meracik sate. Saat masih mentah, potongan daging sate yang ditumpuk diatas meja nampak masih merah.

Namun demikian, konsumen tidak perlu menunggu lama untuk dapat menikmati sate khas Hadorie. Meski baru diracik, ditusuk dan dibakar , proses sampai ke meja untuk disantap tidak lebih dari 15 menit saja. Sate pun siap untuk dinikmati.

Rupanya cara inilah yang membuat sate buatan Hadorie selalu segar dan empuk. Oh ya, pengunjung juga bisa memilih sate yang ingin dinikmati. Bisa memilih daging semua atau bisa ditambah dengan "gajih" atau lemak. Ada empat potongan yang disajikan dalam satu tusuk. Atau bisa juga memilih jeroan atau hati.

Menikmati sate kambing dapat dicocol dengan bumbu kacang atau bumbu kecap. Bumbu disajikan dalam piring kecil . Setiap satu orang konsumen akan diberikan dua piring kecil. Pada bumbu kecap ditambah potongan cabe rawit yang pedas dan potongan bawang merah. Bawang merah menjadi penetral bagi penikmat sate agar kolesterol tidak naik. tgh/E-6

Lalu bagaimana Rasanya?

Potongan daging kambing yang disajikan ukurannya cukup tebal, namun saat digigit ternyata sangat empuk. Rupanya daging yang dipakai adalah daging paha bagian belakang dan hanya kambing yang berumur satu hingga satu setengah tahun.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Ekonomi
Dirut ASDP Pastikan Korban ...
Ekonomi
Mitigasi Kenaikan Harga BBM...
Megapolitan
Pilah Sampah dari Rumah Jad...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Migrasi Pengguna Pertamax Bisa Jadi Bom Waktu Fiskal, Pakar Beri Peringatan

Migrasi Pengguna Pertamax Bisa Jadi Bom Waktu Fiskal, Pakar Beri Peringatan

12 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.