Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
-

Petani Pangan Masih Nombok

📅 Selasa, 03 Okt 2017, 00:01 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Petani Pangan Masih Nombok Doc: koran jakarta/ones

Kenaikan pendapatan petani pangan masih lebih kecil dibandingkan pengeluarannya.

Fakta di lapangan, petani mengaku susah menjual produk dengan harga bagus.

JAKARTA - Sejumlah kalangan mengkritisi pernyataan Badan Pusat Statistik (BPS) tentang kenaikan nilai tukar petani (NTP) September 2017 yang terjadi di tengah deflasi untuk kelompok bahan makanan. Sebab, kenaikan NTP menunjukan kenaikan harga jual produk petani.

Di sisi lain, deflasi pangan mengindikasikan penurunan harga pangan. Sementara itu, meskipun secara total NTP bulan lalu meningkat, namun kelompok petani pangan masih belum mampu menikmati kesejahteraan. Pasalnya, walaupun NTP tanaman pangan juga naik, akan tetapi angkanya masih di bawah 100 atau belum mencapai titik impas.

Dengan kata lain, kenaikan pendapatan yang diterima petani pangan lebih kecil dibandingkan pengeluaran atau biaya produksinya. Artinya, petani masih nombok. Peneliti ekonomi Indef, Bhima Yudistira Adhinegara, mengatakan ketika terjadi deflasi bahan pangan maka NTP semestinya turun karena pendapatan petani berkurang akibat penurunan harga pangan.

"Harusnya antara deflasi dan nilai tukar petani nyambung. Saya lihat memang kadangkadang NTP dengan harga pangan selalu beriringan dan berkorelasi positif.

Tapi, kalau kemudian yang ada berbeda, kita patut bertanya kepada BPS, kenapa datanya jadi tidak sama? Ketika terjadi deflasi, seharusnya nilai tukar petaninya juga turun. Tapi ini direspons sebaliknya," kata Bhima, di Jakarta, Senin (2/10). Seperti dikabarkan, BPS melaporkan pada September 2017, terjadi deflasi untuk kelompok bahan makanan sebesar 0,53 persen.

Deflasi tersebut menunjukkan penurunan indeks dari 140,06 pada Agustus 2017, menjadi 139,32 pada September 2017. Kepala BPS, Suhariyanto, menjelaskan kelompok bahan makanan pada September 2017 memberikan andil deflasi sebesar 0,11 persen. Terkait perkembangan NTP, dia menyebutkan NTP September 2017 sebesar 102,22 atau naik 0,61 persen dari bulan Agustus 2017 yang sebesar 101,60.

Dari angka tersebut, NTP tanaman pangan naik 1,6 persen, dibandingkan bulan sebelumnya, menjadi 99,86 atau masih di bawah level impas. Nilai NTP menunjukkan perbandingan antara pendapatan dengan pengeluaran petani. Jika di bawah 100, berarti petani rugi.

Jika di atas 100, berarti petani untung. Pendapatan petani menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi petani, sedangkan pengeluaran petani menunjukkan perkembangan harga kebutuhan rumah tangga petani, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun untuk proses produksi pertanian.

NTP tanaman pangan terakhir kali berada di atas 100 pada Maret 2016 sebesar 100,69. Dengan demikian, selama 1,5 tahun terakhir petani pangan belum menikmati keuntungan dari hasil bercocok tanam.

Harga Gabah

Suhariyanto mengemukakan kenaikan NTP tanaman pangan antara lain disebabkan kenaikan harga gabah. Pada September 2017, rata-rata harga gabah tingkat petani untuk semua kualitas gabah kering panen (GKP), gabah kering giling (GKG), dan gabah kualitas rendah mengalami kenaikan masing-masing 2,6 persen, 4,11 persen, dan 4,91 persen.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
Wisata Gastronomi Ajak Wisa...
Megapolitan
Pemerintah Kota Bogor: Perl...
Daerah
Jaringan Sabu Karawang-Beka...
Ekonomi
Harga Telur Ayam Rp30.100/K...
Olahraga
Piala Dunia: Brasil Ditahan...
Olahraga
Turnamen Bulu Tangkis Khusu...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Puluhan Ribu Orang Ikuti Lomba Lari Jakarta Internasional Maraton

Puluhan Ribu Orang Ikuti Lomba Lari Jakarta Internasional Maraton

14 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.