Toeti Heraty Noerhadi Roosseno
📅 Sabtu, 30 Sep 2017, 05:00 WIB | Oleh: Tim PenulisApakah ada yang menggerakkan keinginan itu?
Bisa juga itu tergerak oleh buku yang sempat saya bahas habishabisan waktu menulis skripsi psikologi, yaitu tentang feminisme yang ditulis Simon de Buffer. Bisa jadi tergerak juga untuk mencari kebebasan maka saya pindah ke Jakarta. Ketika pindah ke Jakarta, saya membawa satu dari empat anak yang masih kecil, belum sekolah. Sedang yang tiga, tunggu naik kelas dulu.
Di Jakarta, saya menyewa pavilun kecil, yang ternyata dekat dengan balai budaya. Saya sering ke balai budaya dan bertemu dengan seniman-seniman dari Bandung yang sudah saya kenal sebelumnya. Hal itu membuka cakrawala dan suasana di Jakarta sangat mendukung karena pada waktu itu tahun 1966, yaitu awal Orde Baru. Di sanalah saya mulai menulis puisi.
Ketika baru pindah dari Bandung, apa pekerjaan Anda di Jakarta?
Ayah saya mengatakan kamu kelihatan pengangguran. Ayo ikut saya. Ayah saya, waktu itu menjadi Menteri Pekerjaan Umum dan tidak sempat mengurusi perusahaan yang didirikan pada 1951. Ketika diserahkan kantor tersebut, saya kurang paham mengurusnya. Bidang saya kedokteran, psikologi, terus puisi, kok harus pegang satu kantor perusahaan di bidang hukum.
Sebagai anak perempuan yang pernah mengecewakan orang tua sebab saya pindah-pindah, dari kedokteran ke psikologi, maka saya lakukan itu. Akhirnya, perusahaan itu saya pegang, berkembang kemudian menjadi tulang punggung keuangan keluarga hingga kini. Saya memegang kantor itu dari tahun 1966 hingga 2017. Kalau tidak salah sudah 51 tahun. Kantor itu menjadi kantor ranking 1 di bidang Hak Kekayaan Intelektual (Haki).
Kenapa Anda menulis puisi?
Saya tidak menulis puisi. Saya hanya membuat catatan pribadi dan catatan itu numpuk. Karena numpuk, saya kirim ke HB Jassin. Oleh HB Jassin itu dianggap puisi. Saya tidak tahu, apakah itu suatu kecelakaan atau kebetulan. Lalu dibahas oleh Subagio Sastrowardoyo, saya gemetaran karena Subagio baru membahas sajaknya Arifin Noor dan ketika itu dibantai habis-habisan.
Ada resensi yang sangat positif dari Subagio Sastrowardoyo di Majalah Horison, ditambah lagi ada kunjungan WS Rendra ke rumah untuk menyambut saya sebagai penyair baru. Jadinya, lucu. Tapi itu pun sesuatu yang tidak saya inginkan secara sadar, tetapi berkembang begitu saja. Lalu penulisan itu berlangsung terus.
Awalnya gencar, lama kelamaan sesekali, tapi tetap berlangsung. Sekarang puisi saya terbit di dua buku, yaitu Antologi Puisi Indonesia (kumpulan puisi Indonesia di semua generasi/periode) ada empat puisi saya di sana. Kalau penyair perempuan, saya yang pertama menulis buku puisi penyair perempuan.
Kenapa Anda banyak mempunyai lukisan (kolektor)?
Saya bukan sengaja jadi kolektor, akan tetapi karena memiliki banyak teman seniman. Mereka memberi hadiah atau saya beli lukisannya atau saya membeli dengan menyicil. Intinya, setiap lukisan saya ada riwayatnya.
Soal studi filsafat yang Anda tempuh, bagaimana ceritanya?
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!