Toeti Heraty Noerhadi Roosseno
📅 Sabtu, 30 Sep 2017, 05:00 WIB | Oleh: Tim PenulisItu karena situasinya mapan. Di Jakarta, selain memimpin perusahaan yang bergerak di bidang hukum dan mengajar psikologi di UI dan Unpad, saya kembali merasa resah, lalu mengambil studi filsafat. Waktu saya berangkat ke Belanda untuk mengambil doktor psikologi, namun pilihan itu belum mantap. Pokoknya meninggalkan kemapanan di sini karena pekerjaan baik, keuangan baik, rumah baik, anakanak baik, semuanya baik.
Saya berangkat ke Leiden, Belanda, untuk mengambil filsafat. Setelah selesai studi itu, pulang ke Indonesia dan membantu membuat jurusan filsafat di UI. Kemudian, diusulkan menjadi Guru Besar Filsafat dari UI ketika mau pensiun. Jadi banyak hal yang datang begitu saja sebagai suatu karunia.
Sampai saat ini sudah berapa buku puisi?
Kalau buku puisi saya tidak banyak. Saya banyak membuat antologi, misalkan Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (khusus puisi wanita), Manifestasi Indonesia Belanda, dan beberapa kumpulan puisi lain. Ada prosa lirik, Calon Arang dan prosa lirik lain. Ada buku Berpijak pada Filsafat, Tentang Manusia Indonesia, Hidup Matinya Sang Pengarang. Saya rasa, lebih dari 10 buku yang saya tulis, tidak hanya puisi. Kalau buku puisi, saya tidak terlalu banyak. Menulis puisi itu tidak bisa dipaksakan.
Siapa yang paling mendukung karier selama ini?
Saya kira banyak orang yang mendukung. Akan tetapi, bapak saya mengatakan kalau saya ini membingungkan. Sebab dari kedokteran ke psikologi, dari psikologi ke filsafat, belum lagi menulis. Bapak saya berpesan, apa pun yang kau lakukan, pasti kau tahu apa yang terbaik untukmu. Secara moril, dukungan itu sudah tanpa syarat. Itu sangat mendukung. Yang penting bagi saya kebebasan jiwa dan kepuasan batin.
Usia Anda kini sudah senja, apakah ilmu-ilmu yang Anda miliki kini sudah diregenerasikan ke anak atau ke generasi kekinian?
Saya sudah mencoba, tapi tidak sempurna. Misalnya, menyusun suatu buku Berpijak pada Filsafat, yang saya kumpulkan dari 35 disertasi mahasiswa filsafat yang saya bimbing. Itu saya anggap sebagai regenerasi dan lain sebagainya.
Bagaimana Anda menilai penghargaan Bintang Paramadarma dari Presiden?
Itu sebagai anugerah tak terduga. Lucunya, dari delapan penerima bintang, tiga untuk budaya. Dari tiga untuk budaya itu dua sudah almarhum, yang Soedjatmoko dan pelukis Dullah. Waktu Presiden Jokowi menyematkan bintang kepada saya, saya mengatakan Pak Jokowi, yang terima bintang ada tiga orang, yang dua sudah almarhum. Saya tiga bulan lalu hampir almarhum karena saya sakit keras. Presiden Jokowi menjawab, ya jangan.
Di usia senja ini, apa yang akan Anda lakukan berikutnya? Atau karya apa lagi yang akan lahir?
Saya sudah merencanakan apa yang masih bisa saya lakukan. Jangan-jangan karena dapat bintang, dilakukan hal yang mulukmuluk, itu yang mustahil. Apalagi, pada waktu itu, di Belanda, saya sakit keras, kritis, sampai-sampai keluarga saya semua didatangkan.
Ada majalah yang sempat saya dirikan, namanya Mitra diterbitkan oleh Mitra Budaya di Jalan Tanjung, tapi kantornya disita oleh negara, jadi berhenti setelah terbit 11 kali. Sekitar satu setengah tahun lalu, saya berminat dan mau membangkitkan kembali.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!