Pudarnya Interaksi Sosial Langsung di Era Digital
📅 Selasa, 11 Jul 2017, 01:00 WIB | Oleh: Tim PenulisBahkan eratnya hubungan seseorang dengan ponsel, pun mampu merusak hubungan pasangan, mereka menganggap kualitas hubunganya tidak merasa baik, dan lebih cenderung merasa tertekan, ungkap sebuah penelitian. Dalam penelitian lain menceritakan, bagaimana seorang pekerja yang tidak bisa lepas sama sekali dengan ponselnya.
Dalam sebuah penelitian, para pekerja diminta untuk meletakkan ponselnya di meja masing-masing. Yang terjadi justru mereka tampak stres dan tertekan, apabila tidak bisa memeriksa ponselnya untuk beberapa menit saja. Meski begitu, kita tetap tidak bisa berhenti menatap ponsel kita. Profesor Adam Alter dalam bukunya berjudul Irresistible pun menyinggung, bahwa komunikasi elektronik beserta fenomena sosial media bawaannya itu bersifat adiktif, yang sama bahayanya dengan kecanduan narkoba. ima/R-1
Lebih Mencerdaskan
"Anda adalah rangkuman dari lima orang yang paling dekat dengan Anda," ungkap Jim Rohn, pembicara dan motivator. Dan benar saja, persepsi ini sejalan dengan anggapan orang tua dulu, yang mewajibkan anak-anaknya untuk memilih teman yang baik, agar ketularan baiknya. Memang tak diragukan lagi, pertemanan yang sehat memang mampu memberi pengaruh besar pada kecerdasan kita. Hal ini terbukti lewat penelitian ilmiah.
Dalam beberapa studi menunjukkan bahwa pemikiran dan pendapat seseorang terbentuk oleh lingkungan dan teman-teman di sekitarnya. Jadi mau pintar atau bodoh semua tergantung pada siapa orangorang di sekeliling kita.
Dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa pemikiran, gagasan, atau pendapat orangorang lain yang sesuai dengan pendapat kita, maka otak akan bereaksi dengan memberikan perasaan senang. Dan sebaliknya, apabila pendapat kita berbeda dengan yang lain, maka otak juga akan mengirimkan sinyal tidak suka.

Khusus pada kasus ini, seseorang bisa tetap mempertahankan pandangan kita atau mencari alternatif pemikiran yang sesuai dengan pendapat orang lain. Menurut riset, kebanyakan orang biasanya akan melakukan yang kedua, alias berusaha menyamakan persepsi dengan yang lain.
Dalam studi yang dilakukan pada 1956 oleh psikolog dari kolese Swarthmore, ditemukan bahwa deskripsi seseorang mengenai suatu benda ternyata tergantung pada opini orang lain yang berada di sekitarnya. Studi lain juga menghasilkan temuan serupa, suka atau tidak, otak kita secara otomatis berusaha menyamakan pendapat dengan informasi yang didapatkan dari lingkungan sekitar kita.
Itu sebabnya, mengapa kita harus menjaga kualitas pertemanan dan memilih pertemanan khusus di era sosial media. Karena teman yang baik tentu yang mencerahkan, bukan yang menjerumuskan ke ruang-ruang pemikiran yang antahberantah, seperti yang terlihat di sosial media belakangan ini.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!