WHO Tetapkan Risiko Tinggi Wabah Hantavirus
📅 Senin, 11 Mei 2026, 06:05 WIB | Oleh: Tim RedaksiKrisis Kesehatan
JENEWA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Sabtu (9/5), menetapkan bahwa seluruh orang yang berada di kapal pesiar MV Hondius yang terdampak wabah hantavirus harus dikategorikan sebagai kontak “berisiko tinggi” dan dipantau secara aktif selama 42 hari.
“Kami mengklasifikasikan semua orang di atas kapal sebagai apa yang kami sebut kontak berisiko tinggi,” tutur Maria Van Kerkhove, Direktur Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi dan Pandemi WHO, dalam konferensi pers.
Seperti dikutip dari Antara, Maria menjelaskan bahwa meski saat ini tidak ada penumpang yang menunjukkan gejala, pemantauan ketat tetap diperlukan.
“Kami merekomendasikan pemantauan dan penindaklanjutan aktif terhadap seluruh penumpang dan awak kapal yang turun dari kapal selama periode 42 hari,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski demikian, WHO menegaskan bahwa risiko bagi masyarakat umum, termasuk warga Kepulauan Canary yang menjadi tujuan kapal, masih tergolong rendah.
Dalam laporan Disease Outbreak News, WHO menyebutkan kasus pertama penyakit pernapasan berat di kapal itu dilaporkan pada 2 Mei.
Saat itu terdapat 147 penumpang dan awak kapal di atas MV Hondius, sementara 34 orang lainnya telah turun lebih dulu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hingga Jumat (8/5), tercatat delapan kasus bergejala termasuk tiga kematian, dengan enam kasus telah terkonfirmasi sebagai infeksi hantavirus Andes (ANDV) melalui uji laboratorium.
WHO meminta negara terkait memperkuat koordinasi kesehatan masyarakat, termasuk pelacakan kontak, penanganan pasien, pencegahan penularan, dan komunikasi publik yang transparan.
“WHO mendesak negara-negara untuk terus melanjutkan koordinasi kesehatan masyarakat, termasuk pelacakan kontak dan penanganan kasus,” demikian pernyataan lembaga tersebut.
Proses Evakuasi
Sementara itu, Menteri Kesehatan Spanyol Monica Garcia menyebut seluruh penumpang tidak menunjukkan gejala saat proses evakuasi berlangsung.
“Seluruh penumpang tidak menunjukkan gejala,” ujarnya, seraya menyebut operasi penanganan ini melibatkan koordinasi lintas 23 negara sebagai sesuatu yang “belum pernah terjadi sebelumnya.”
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!