Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tradisi Budaya Kaltim Mengakar dalam Pesta Adat Lom Plai

📅 Senin, 23 Mar 2026, 22:57 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tradisi Budaya Kaltim Mengakar dalam Pesta Adat Lom Plai Doc: Antara
Ket. Tradisi Laq Pesyai dalam rangkaian adat Lom Plai dilaksanakan secara berbondong-bondong menuju hulu Sungai Wehea untuk mengambil buah hutan dan rotan sebagai perlengkapan upacara.

Samarinda - Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus berkomitmen memperkuat pelestarian nilai-nilai tradisi yang telah mengakar kuat di masyarakat melalui penyelenggaraan rangkaian pesta adat Lom Plai 2026 di Desa Nehas Liah Bing, Kabupaten Kutai Timur.

"Pesta adat Lom Plai bukan sekadar perayaan syukur atas hasil panen, melainkan manifestasi nyata dari keteguhan masyarakat Dayak Wehea dalam menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi," ujar Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim Ririn Sari Dewi saat dikonfirmasi di Samarinda, Senin.

Ririn menjelaskan bahwa rangkaian acara yang berlangsung mulai Maret hingga April ini menjadi salah satu daya tarik wisata budaya unggulan yang masuk dalam kalender Karisma Even Nusantara (KEN) 2026.

Tradisi tahunan ini diawali secara sakral melalui prosesi Ngesea Egung atau pemukulan gong pada 23 Maret sebagai tanda dimulainya seluruh rangkaian ritual.

Masyarakat adat kemudian melaksanakan Laq Pesyai dengan berbondong-bondong menuju hulu Sungai Wehea untuk mengambil buah hutan dan rotan sebagai perlengkapan upacara.

Prosesi berlanjut pada ritual Naq Pesyai Duq Min dan Wet Min yang merupakan simbolisasi pembuatan batas wilayah hulu serta hilir kampung menggunakan anyaman rotan.

"Keunikan budaya Wehea juga tampak pada ritual Ngelwung Pan, dimana para perempuan adat melakukan ritual spiritual secara tertutup di bawah rumah keturunan Hepui," papar Ririn.

Memasuki bulan April, warga adat mulai membangun pondok darurat di pinggir sungai dalam tradisi Naq Jengea sebagai persiapan menjelang hari puncak.

Puncak perayaan atau Bob Jengea dimeriahkan dengan pawai budaya, penampilan tari Hudoq, hingga atraksi perang-perangan di atas sungai yang dikenal dengan Seksiang.

Seluruh rangkaian upacara adat ini akan ditutup dengan ritual pembersihan kampung Embos Epaq Plai pada 29 April 2026 guna mengusir hal buruk dan memohon keberkahan musim tanam mendatang.

"Kami berharap kolaborasi antara pemangku adat dan pemerintah daerah dapat terus menjaga keberlanjutan tradisi ini sebagai warisan intelektual bangsa," kata Ririn.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Rona
Penyanyi Legendaris Peabo B...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.