Teknologi Mesin Fleksibel Memungkinkan Jaringan Listrik PLTS dan PLTB Stabil
📅 Jumat, 21 Nov 2025, 10:40 WIB | Oleh: Vitto Budi
Doc: istimewa
JAKARTA- Perusahaan teknologi Wärtsilä mendukung upaya percepatan transisi energi dan transformasi digital di Indonesia melalui teknologi mesin terbaik dan solusi inovatif yang menghadirkan fleksibilitas serta keandalan.
Dalam Energy Transition Roundtable yang diselenggarakan dalam rangkaian Electricity Connect 2025, Wärtsilä mengundang pemerintah, pelaku utilitas, akademisi, dan para pemimpin industri untuk membahas strategi penguatan ketahanan jaringan listrik seiring meningkatnya pemanfaatan energi terbarukan dan melonjaknya permintaan listrik.
Diskusi tersebut fokus pada integrasi energi terbarukan, fleksibilitas jaringan, penyelarasan kebijakan, serta peningkatan kebutuhan energi untuk mendukung ekonomi digital Indonesia yang terus tumbuh, termasuk pusat data berbasis AI.
Energy Business Director, Australasia, Wärtsilä Energi, Kari Punnonen mengatakan peningkatan kapasitas tenaga surya dan angin di Indonesia merupakan langkah penting menuju target nol emisi, namun perkembangan itu juga menghadirkan tantangan baru.
Energi terbarukan memiliki sifat intermiten, tidak selalu menghasilkan listrik sepanjang waktu, sehingga dapat membuat jaringan rentan terhadap fluktuasi dan berpotensi menyebabkan pemadaman atau gangguan pasokan listrik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pembangkit listrik berbasis mesin Wärtsilä katanya mampu mengatasi tantangan itu dengan menyediakan respons frekuensi yang sangat cepat, mampu aktif dalam hitungan detik untuk memulihkan keseimbangan jaringan ketika output energi terbarukan menurun.
“Fleksibilitas telah menjadi atribut paling krusial dalam sistem tenaga listrik modern,” ujar Punnonen.
Teknologi fleksibel seperti mesin diperlukan untuk memungkinkan peningkatan penggunaan energi terbarukan tanpa mengorbankan keandalan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mesin Wärtsilä jelasnya dapat menyala dan mencapai beban penuh dalam waktu kurang dari dua menit, serta telah dirancang untuk masa depan dengan kemampuan beroperasi menggunakan bahan bakar berkelanjutan seperti hidrogen.
Di Pulau Lombok misalnya, pembangkit listrik mesin Wärtsilä berkapasitas 135 Megawatt (MW) memasok hampir 60 persen dari total kebutuhan listrik pulau tersebut. Setengah dari kapasitas mesin beroperasi sebagai pembangkit beban dasar, sementara sisanya berfungsi dalam mode penyeimbang, menyediakan pengendalian frekuensi ketika terjadi gangguan pada jaringan.
Fleksibilitas operasional itu memungkinkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 20 MW di Lombok beroperasi secara andal tanpa penyimpanan energi berbasis baterai.
“Lombok membuktikan bahwa Indonesia dapat menyeimbangkan energi terbarukan sekaligus menjaga keandalan jaringan tanpa harus melakukan investasi berlebihan pada penyimpanan energi atau spinning reserve,” tambah Sales Director, Wärtsilä Energi, Febron Siregar.
“Teknologi mesin kami mampu merespons fluktuasi secara cepat dan menstabilkan jaringan dalam hitungan detik,” jelas Febron
Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Kevin Marojahan Banjar Nahor, dalam kesempatan itu mengatakan pendekatan Wärtsilä mencerminkan kebutuhan Indonesia pada tahap transisi energi saat ini. Untuk meningkatkan kapasitas tenaga surya dan angin secara nasional, fleksibilitas jaringan bukan lagi pilihan, tetapi menjadi kebutuhan mendasar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!