Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Seru, Parade Sewu Kupat di Kudus

📅 Sabtu, 28 Mar 2026, 21:20 WIB | Oleh:
Seru, Parade Sewu Kupat di Kudus Doc: ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif
Ket. Sejumlah gunungan dalam acara tradisi tahunan "Parade Sewu Kupat" yang berlangsung di Taman Ria Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Sabtu (28/3). Tradisi syawalan ini menjadi bagian dari pelestarian tradisi syawalan sekaligus upaya mendorong perekonomian masyarakat.

Kudus -- Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, kembali menggelar tradisi tahunan Parade Sewu Kupat di Desa Colo Kecamatan Dawe, sebagai bagian dari pelestarian tradisi syawalan sekaligus upaya mendorong sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat setempat.

Parade yang digelar di Taman Ria Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Sabtu itu, berlangsung meriah.

Tradisi Sewu Kupat sendiri merupakan bagian penting dari budaya masyarakat Kudus yang digelar tujuh hari setelah Hari Raya Idul Fitri, sebagai penutup rangkaian perayaan Lebaran. Tradisi ini juga memiliki makna spiritual yang mendalam.

Usai menjalankan puasa Syawal selama enam hari, masyarakat menggelar kupatan sebagai simbol rasa syukur, kebersamaan, serta saling memaafkan.

Dalam pelaksanaannya, Parade Sewu Kupat melibatkan partisipasi luas masyarakat. Terdapat tandu utama berisi ketupat lepet dan hasil bumi, serta gunungan kupat dari berbagai desa di Kecamatan Dawe.

Sedikitnya 18 gunungan kupat diarak dalam kirab budaya yang diikuti desa-desa seperti Colo, Japan, Cranggang, Dukuhwaringin, hingga Cendono. Kegiatan ini juga dimeriahkan oleh pelajar, organisasi masyarakat, serta peserta yang mengenakan pakaian adat Nusantara.

Ketua Panitia Parade Sewu Kupat Suwanto menambahkan kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarat nilai kebersamaan dan gotong royong.

"Alhamdulillah tahun ini lebih meriah. Semua elemen masyarakat ikut terlibat, mulai dari warga hingga berbagai komunitas di Desa Colo," ujarnya.

Ia menambahkan meskipun tahun ini tidak ada lomba gunungan, partisipasi masyarakat justru semakin meningkat. Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sepanjang rute kirab dipadati masyarakat untuk menyaksikan, bahkan turut berebut kupat sebagai simbol berkah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.