Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Situs yang Bangkit dari Timbunan Material Vulkanik

📅 Jumat, 13 Feb 2026, 06:54 WIB | Oleh:
Situs yang Bangkit dari Timbunan Material Vulkanik Doc: Wikimedia Commons
Ket. Reruntuhan Candi Sari Cepogo.

KEBERADAAN Candi Sari di Kabupaten Boyolali sering kali disebut dalam satu tarikan napas dengan Candi Lawang, karena keduanya berada dalam wilayah yang berdekatan di Kecamatan Cepogo, lereng Gunung Merapi. Situs ini memiliki riwayat penemuan yang serupa dengan banyak peninggalan arkeologis lain di kawasan tersebut tersembunyi berabad-abad di bawah material vulkanik sebelum akhirnya masuk dalam perhatian penelitian modern.

Perlu dicatat, nama “Candi Sari” merujuk pada dua situs berbeda di Jawa. Yang pertama berada di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dikenal sebagai bangunan bertingkat yang diduga bekas asrama biksu dan bercorak Budhha. Sementara itu, Candi Sari yang dimaksud dalam konteks ini terletak di Desa Gedangan, Boyolali, dan memiliki karakteristik agama Hindu.

Secara administratif, jejak keberadaan reruntuhan batu di lereng Merapi mulai tercatat dalam literatur arkeologi pada masa Hindia Belanda, sekitar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Peneliti kolonial serta petugas dari Oudheidkundige Dienst lembaga purbakala pada masa itu melaporkan adanya sebaran batu candi di kawasan Cepogo. Meski demikian, situs Candi Sari belum mengalami pemugaran, dan sebagian besar struktur bangunan masih tertimbun tanah, vegetasi, serta endapan material vulkanik.

Seperti banyak situs lain di wilayah tersebut, Candi Sari kembali dikenal melalui temuan warga setempat yang mendapati sisa-sisa bangunan dalam kondisi rusak berat. Aktivitas vulkanik Gunung Merapi selama berabad-abad menjadi faktor utama yang menimbun dan merusak struktur.

Upaya penyelamatan secara sistematis baru dilakukan jauh kemudian oleh pemerintah Indonesia melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Pada dekade 1980-an hingga 1990-an, pendataan intensif dimulai, disertai pembersihan area dari semak belukar serta tanah yang menimbun kaki candi.

Tim arkeolog kemudian melakukan proses anastilosis penyusunan kembali batu-batu yang berserakan meski pemugaran tidak dapat mengembalikan bentuk utuh bangunan karena banyak bagian tubuh dan atap candi telah hilang.

Dalam proses penggalian, sejumlah temuan penting memberikan petunjuk mengenai fungsi religius situs ini. Di antaranya adalah sebuah yoni tanpa cerat serta fragmen arca Hindu, yang menguatkan dugaan bahwa candi ini merupakan tempat pemujaan dalam tradisi Hindu, kemungkinan berasal dari masa Mataram Kuno sekitar abad ke-9 Masehi.

Letak geografisnya yang berada di puncak bukit kecil turut memperkuat interpretasi bahwa lokasi tersebut dipilih untuk praktik spiritual yang menekankan kesunyian dan kedekatan dengan alam pegunungan.

Saat ini, Candi Sari telah ditata sebagai situs cagar budaya yang relatif terawat. Struktur yang tersisa terutama berupa bagian batur dan kaki candi, dengan susunan batu di atasnya yang menunjukkan bentuk bangunan masa lalu. Meski tidak utuh, situs ini menjadi bukti penting keberadaan jalur aktivitas religius maupun pemukiman kuno di dataran tinggi Boyolali. hay

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Janice Tjen Mulus ke Peremp...
Ekonomi
Berpotensi Melemah Lanjutan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.