Danantara Bidik 30% Saham di Tiap Proyek WTE, Mantapkan Posisi di Energi Hijau
📅 Senin, 03 Nov 2025, 20:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO-Mohammad Ayudha
JAKARTA – Proyek Waste to Energy (WTE) atau Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, badan usaha (investor dan perusahaan swasta), dan masyarakat untuk memastikan keberhasilan finansial, teknis, lingkungan, dan sosial.
Kemitraan ini diperlukan untuk mengatasi kompleksitas proyek seperti investasi besar, pemilihan teknologi yang kompetitif, penjaminan pasokan sampah, pengolahan dampak lingkungan, hingga penyerapan listrik yang dihasilkan.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) berencana memiliki sedikitnya 30 persen saham di setiap proyek WTE atau PSEL melalui kemitraan dengan berbagai pihak.
Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan bahwa porsi kepemilikan saham di setiap proyek WTE kemungkinan tidak seragam. Komposisinya akan bergantung pada hasil negosiasi dengan mitra serta karakteristik ekonomi masing-masing proyek.
“Kita open, misalnya nanti technical partner yang punya saham lebih. Kita bilangnya, kalau bisa kita setidaknya 30 persen (porsi kepemilikan). Tapi kita happy to take 51 persen atau lebih,” kata Pandu dalam Media Coffee Session di Jakarta, Senin (3/11).
Sebaiknya Anda baca juga:
Porsi minimal 30 persen itu mencerminkan peran Danantara sebagai investor strategis, namun tetap memberi ruang bagi sektor swasta untuk berpartisipasi aktif. Menurut Pandu, fleksibilitas dalam struktur kepemilikan saham tersebut penting agar partisipasi swasta dapat meningkat.
“Kami ingin crowding in private sector. Ini penting. Untuk proyek tertentu, kita bisa mayoritas. Untuk proyek lainnya (PSEL di kota tertentu), bisa saja yang mayoritas private sector. Tidak apa-apa. Kami ingin private sector ikut bantu masuk ke sini,” katanya.
Dari sisi pembiayaan, Pandu menyebut bahwa sebagian besar proyek WTE akan menggunakan skema project financing dengan struktur pendanaan sekitar 70 persen utang (debt) dan 30 persen ekuitas.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Banyak sekali dari luar negeri (bank asing), banyak juga bank-bank dalam negeri, di luar Himbara, yang sangat tertarik. Kita akan mencari mana yang terbaik untuk setiap proyek yang ada,” katanya.
Adapun sebagian dana ekuitas akan bersumber dari penerbitan Patriot Bond, instrumen investasi yang disiapkan Danantara untuk mendukung proyek strategis nasional termasuk WTE.
“Kita akan menggunakan dana dari Patriot Bond, sebagiannya buat ini (proyek WTE),” ujar Pandu.
Menurut dia, tingginya minat perbankan dan investor terhadap proyek itu menunjukkan adanya potensi besar dalam pembentukan modal (capital formation). Keterlibatan berbagai pihak, mulai dari perbankan nasional hingga asing, dinilai menjadi bukti bahwa proyek-proyek WTE memiliki daya tarik komersial sekaligus manfaat ekonomi yang kuat.
Proyek-proyek WTE juga diharapkan mampu menghasilkan tingkat pengembalian (internal rate of return/IRR) pada kisaran high single digit dalam denominasi dolar AS, kata Pandu.
Setiap investasi yang dilakukan Danantara harus memenuhi dua mandat utama, yakni menghasilkan imbal hasil komersial yang layak serta memberikan dampak sosial dan lingkungan yang signifikan, katanya, menegaskan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!