Rupiah Hari Ini Tertekan, Kenaikan Harga Minyak Jadi Biang Kerok
📅 Kamis, 23 Apr 2026, 17:35 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pelemahan rupiah di tengah kenaikan harga minyak mencerminkan tekanan ganda dari sisi eksternal dan fundamental domestik.
Lonjakan harga minyak meningkatkan kebutuhan impor energi Indonesia, sehingga memperlebar defisit transaksi berjalan dan mendorong permintaan dolar AS.
Di saat yang sama, kenaikan harga energi global cenderung memicu inflasi domestik, yang dapat membatasi ruang kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Kondisi ini diperparah oleh sentimen global, di mana harga minyak yang tinggi sering kali berkorelasi dengan meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan penguatan dolar AS sebagai aset safe haven.
Akibatnya, aliran modal asing berpotensi keluar dari pasar keuangan domestik, menambah tekanan pada rupiah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tanpa intervensi yang kuat atau penurunan harga minyak dalam waktu dekat, rupiah berisiko tetap berada dalam tren melemah.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Kamis (23/4), melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.181 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat berlanjutnya perang AS dan Iran yang berimbas pada penutupan Selat Hormuz,” ucapnya di Jakarta.
Untuk diketahui, pertemuan putaran kedua antara AS dengan Iran di Pakistan untuk membahas perihal negosiasi damai dan gencatan senjata tidak terlaksana. Hal ini disebabkan Iran tak ikut dalam perundingan tersebut karena Amerika Serikat melakukan blokade di Selat Hormuz.
Pada akhirnya, AS memutuskan gencatan senjata sepihak seiring tetap mendorong Iran agar tidak memberikan tarif di Selat Hormuz dan meminta pengayaan uranium dihentikan, yang kemudian diambil alih untuk disimpan AS.
Sebagaimana dilaporkan Sputnik, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa pelanggaran komitmen, tindakan blokade di Selat Hormuz, serta ancaman dari AS menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi.
Menurut Pezeshkian, Iran selalu menyambut dan terus membuka diri terhadap dialog dan kesepakatan. Namun, itikad buruk, pengepungan, dan ancaman dari AS merupakan penghalang utama bagi negosiasi yang tulus.
Pezeshkian menegaskan bahwa dunia menyaksikan retorika kosong yang penuh kemunafikan serta kontradiksi antara klaim dan tindakan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!