RI Dorong Penggunaan Mata Uang Lokal dalam Transaksi dengan Malaysia
📅 Senin, 06 Apr 2026, 01:00 WIB | Oleh: Eko SKuala Lumpur – Pemerintah Indonesia melalui Konsulat Jenderal Republik Indonesia Johor Bahru bersama perwakilan Bank Indonesia di Singapura mendorong penguatan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara antara Indonesia dan Malaysia.
Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat kedaulatan ekonomi kedua negara di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global serta kerentanan ekonomi dunia. Ketergantungan pada mata uang pihak ketiga seperti dollar AS dianggap semakin tidak efisien dan berisiko.
Seperti dikutip dari Antara, KJRI Johor Bahru menyebut fluktuasi nilai tukar, biaya konversi berlapis, serta tekanan eksternal menjadi alasan perlunya alternatif yang lebih stabil. Penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral dinilai sebagai solusi yang semakin relevan.
Indonesia dan Malaysia sejatinya telah memiliki kerangka kerja Local Currency Transaction (LCT), yakni mekanisme penyelesaian transaksi menggunakan rupiah dan ringgit tanpa melalui mata uang pihak ketiga. Namun, implementasinya dinilai masih belum optimal.
Sebagai upaya mempercepat pemanfaatan LCT, KJRI Johor Bahru bersama perwakilan Bank Indonesia di Singapura menggelar forum strategis bertajuk “Leveraging the Benefits of Local Currency Transactions (LCT) Indonesia–Malaysia to Support Bilateral Economic Growth” di Johor Bahru, Rabu (1/4).
Sebaiknya Anda baca juga:
Analis Eksekutif Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Singapura, Budi Satria, menegaskan bahwa LCT merupakan solusi taktis untuk meningkatkan efisiensi transaksi lintas negara.
Ia menjelaskan, dukungan infrastruktur pembayaran modern seperti QRIS di Indonesia dan DuitNow di Malaysia memungkinkan penggunaan mata uang lokal secara langsung sehingga memperkuat konektivitas keuangan, termasuk bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Meski demikian, Budi mengakui pemanfaatan LCT masih perlu dipercepat. Pada 2025, pangsa transaksi perdagangan Indonesia–Malaysia yang menggunakan mata uang lokal baru mencapai sekitar 16,3 persen atau setara 10,6 miliar ringgit.
Sebaiknya Anda baca juga:
Efisensi Transaksi
Pada kesempatan itu, Konsul Jenderal RI Johor Bahru, Sigit S Widiyanto, menekankan kuatnya hubungan Indonesia dan Malaysia, khususnya dengan wilayah Johor, yang mencakup aspek geografis, sosial, budaya, hingga ekonomi.
Ia menyebut mobilitas masyarakat kedua negara sangat tinggi, dengan 2,6 juta wisatawan Malaysia berkunjung ke Indonesia dan 3,8 juta warga Indonesia ke Malaysia sepanjang 2025.
Untuk mendorong pemanfaatan LCT, Sigit memperkenalkan konsep LAJU, yakni:
- Local Currency (mendorong penggunaan mata uang lokal),
- Accelerate Adoption (mempercepat adopsi),
- Joint Growth (pertumbuhan bersama),
- Unlock Potential (mengoptimalkan potensi ekonomi).
Pendekatan ini menegaskan bahwa LCT bukan sekadar instrumen teknis, melainkan strategi memperkuat kedaulatan ekonomi dan integrasi kawasan.
Dalam sesi diskusi yang melibatkan pakar dari Bank Negara Malaysia dan KBRI Kuala Lumpur, diungkapkan bahwa LCT mampu menghilangkan biaya konversi ganda melalui dollar AS yang selama ini membebani pelaku usaha.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!