Potensi Luar Biasa Alga bagi Redakan Kekhawatiran Perubahan Iklim
📅 Rabu, 03 Jan 2024, 06:25 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: afp/ Jennifer de Winter
Para ilmuwan mungkin telah mengambil langkah besar menuju sasaran emisi karbon nol berkat penelitian ganggang yang dilakukan di Universitas Houston (UH). Potensi tersembunyi terungkap dalam studi besar tentang alga di laboratorium produk mikroba yang berlokasi di kampus Universitas Houston di Sugar Land.
Proyek penelitian ini dirintis dan hasilnya telah ditulis dalam artikel yang beberapa waktu lalu diterbitkan di Green Chemistry, jurnalRoyal Society of Chemistry.
Venkatesh Balan, profesor teknologi teknik di Divisi Teknologi Cullen College of Engineering UH, sedang mengeksplorasi ciri-ciri mengejutkan di antara organisme fototropik (peka cahaya) air tawar dan air asin kecil yang disebut sebagai mikroalga. Mikroalga diketahui dapat menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer.
Namun kemampuannya, melalui serangkaian proses, untuk mengubah CO2 yang ditangkap menjadi protein, lipid, dan karbohidrat yang diproduksi secara massal adalah hal yang paling menarik bagi Balan dan tim penelitinya.
"Proses ramah lingkungan ini lebih dari sekedar masalah iklim. Misalnya saja, hal ini bahkan mungkin mengubah cara kita memproduksi makanan," kata Balan, yang telah mempelajari alga selama tujuh tahun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penelitiannya menunjukkan potensi penggunaan mikroalga untuk mengolah limbah udara dan penggunaan biomassa alga untuk menghasilkan makanan, pupuk, bahan bakar, dan bahan kimia.
Alga yang tumbuh di pengolahan air tawar sepertispirulinatelah lama diketahui bisa digunakan dalam suplemen kesehatan dan kosmetik.
Di masa depan, mikroalga dapat digunakan sebagai bahan baku berkelanjutan untuk memproduksi biofuel dan biokimia yang dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Namun, kekuatan mikroalga yang paling besar adalah potensinya untuk memainkan peran kunci dalam menjawab pemanasan global di seluruh dunia.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kita sedang mengalami perubahan iklim. Suhu panas yang mencapai 100 derajat Fahrenheit (37,7778 Celsius) pada musim panas lalu yang berlangsung selama tiga bulan di Texas, dan di beberapa belahan dunia lainnya, belum pernah terjadi sebelumnya. Ini adalah bukti perubahan iklim dan fakta ini tidak bisa disangkal lagi," kata Balan seperti dikutip dari lamansciencedailyedisi 25 Oktober lalu.
Efek rumah kaca, dimana gas-gas tertentu menyelimuti atmosfer Bumi dan menangkap panas lebih dekat ke planet, telah mempercepat pemanasan. Gas rumah kaca dapat terdiri dari gas apa pun yang menyerap radiasi infra merah. Di atmosfer Bumi, CO2 dan klorofluorokarbon menjadi faktor utama efek ini.
"Ada banyak minat di kalangan pembuat undang-undang dan pembuat kebijakan, bahkan di antara perusahaan-perusahaan yang mengeluarkan gas rumah kaca, untuk mencari alternatif, terutama bagi gas yang dihasilkan dari industri," kata Balan. I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!