Pertempuran Terbaru di Sudan Selatan Tewaskan Ratusan Jiwa
📅 Senin, 26 Jan 2026, 02:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/RIAN COPE
JUBA - Pertempuran yang kembali berkobar di Sudan Selatan telah menyebabkan lebih dari 180.000 orang mengungsi, dengan saksi mata menggambarkan penggunaan bom barel tanpa pandang bulu dan warga sipil melarikan diri ke rawa-rawa seiring dengan runtuhnya perdamaian yang rapuh di negara tersebut.
Negara termuda di dunia ini telah dilanda perang, kemiskinan, dan korupsi besar-besaran sejak dibentuk pada 2011, tetapi kekerasan kembali meningkat antara faksi-faksi yang bersaing, yang saat ini berfokus pada Negara Bagian Jonglei di utara Ibu Kota Juba.
"Saya terjebak dan jika keadaan memburuk, satu-satunya tempat aman bagi saya adalah rawa-rawa," kata Daniel Deng, 35 tahun, salah satu dari ribuan orang yang mengungsi akibat pertempuran di Jonglei, kepada AFP melalui telepon, Minggu (25/1).
Dia menggambarkan pertempuran sengit pekan lalu di wilayah Duk tempat dia tinggal, setelah pasukan oposisi menguasai wilayah tersebut, hanya untuk kemudian diusir oleh pasukan pemerintah.
"Banyak orang tewas," kata Deng, memperkirakan jumlahnya sekitar 300 pejuang, yang tidak dapat diverifikasi oleh AFP.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kesepakatan pembagian kekuasaan antara dua faksi utama praktis telah sirna usai Presiden Salva Kiir mengambil tindakan terhadap wakil presidennya dan saingan lamanya, Riek Machar, yang ditangkap Maret lalu dan sekarang sedang diadili atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Pasukan mereka telah beberapa kali bertempur selama setahun terakhir, tetapi bentrokan paling berkepanjangan dimulai pada akhir Desember di Jonglei.
Otoritas Sudan Selatan memperkirakan jumlah pengungsi mencapai lebih dari 180.000 orang di empat wilayah Jonglei, demikian pernyataan badan kemanusiaan PBB, OCHA, pekan ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Sebagian besar orang berlindung di bawah pohon. Rumah dan fasilitas kesehatan mereka telah dijarah atau dibakar, dan banyak yang kelaparan," kata Deng.
Tanpa Pandang Bulu
Kiir dan Machar berperang selama lima tahun tak lama setelah kemerdekaan yang menelan 400.000 nyawa. Kesepakatan pembagian kekuasaan tahun 2018 menjaga perdamaian selama beberapa tahun, tetapi rencana untuk mengadakan pemilihan dan menggabungkan angkatan bersenjata mereka tidak terwujud.
Pertempuran di Jonglei dimulai pada Desember di daerah bernama Piri, kata seorang narasumber LSM di Juba, yang berbicara dengan syarat anonim.
Dia mengatakan pemerintah menanggapi dengan serangan udara tanpa pandang bulu, termasuk penggunaan bom barel terhadap warga sipil karena pemerintah menganggap penduduk setempat bermusuhan dan telah memerintahkan mereka untuk meninggalkan daerah-daerah yang berada di bawah kendali oposisi, kata narasumber itu.
Sudan Selatan memiliki cadangan minyak yang besar, tetapi korupsi yang meluas telah menjadikannya salah satu negara termiskin di dunia, dengan hampir 7,7 juta dari sekitar 12 juta warganya hidup dalam kondisi kelaparan, menurut data Program Pangan Dunia pada April lalu. AFP/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!