Perempuan Dayak Melawan Dampak Tambang Batu Bara dengan Kebun Cabai
📅 Minggu, 22 Jun 2025, 14:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation
Aidy Halimanjaya, Universitas Katolik Parahyangan dan Priscillya Hotma, Universitas Padjadjaran
Di tengah krisis iklim yang semakin parah, transisi energi ke sumber yang lebih ramah lingkungan menjadi keniscayaan.
Tapi di Indonesia, ada sejumlah daerah yang ekonominya sudah kadung bergantung pada batu bara. Salah satunya Kutai Timur, Kalimantan Timur (Kaltim).
Jika masa tambang batu bara berakhir, warga akan terancam kehilangan pekerjaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kami untuk sekarang kan bergantung sekali dengan tambang ya. Karena kan cuma tambang yang ngasih kami penghasilannya besar…” - Aulia, 31 tahun.
Namun, di tengah dilema itu, sekelompok perempuan adat suku Dayak Basap di Desa Tebangan Lembak, tak patah arang. Mereka merintis harapan baru dari halaman rumah sendiri.
Dengan mengubah pekarangan menjadi kebun cabai, perempuan-perempuan ini tak hanya menghasilkan cuan, tetapi juga menunjukkan bahwa pertanian berkelanjutan bisa sejalan dengan tradisi lokal. Inisiatif mereka menjadi inspirasi, terutama bagi komunitas di sekitar tambang yang ingin mencari sumber ekonomi alternatif.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketimpangan ekonomi di daerah tambang
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, hampir 40% ekonomi Provinsi Kalimantan Timur bergantung pada sektor tambang batu bara.
Kutai Timur dan Kutai Kartanegara menjadi kabupaten yang paling bergantung pada sektor ini. Tambang di Kutai Timur bahkan menyokong hampir 75% dari total produk domestik regional bruto (PDRB) kabupaten.
Namun, kontribusi besar sektor ini tidak serta-merta menjamin kesejahteraan masyarakat sekitar. Pada 2024 misalnya, Kabupaten Kutai Kertanegara dan Kutai Timur justru berada di peringkat pertama dan ketiga daerah termiskin di Kaltim.
Jadi, alih-alih sejahtera, banyak warga harus berhadapan dengan kerusakan lingkungan dan kehilangan mata pencaharian tradisional. Hal ini terutama dirasakan oleh kelompok perempuan, yang sering terpinggirkan dalam proses pengambilan keputusan dan tidak terlibat dalam sektor pertambangan.
Sejak hutan berubah menjadi lubang tambang, komunitas Dayak Basap—yang dulunya menggantungkan hidup pada hutan—kehilangan ruang hidup dan dipaksa beradaptasi agar bisa bertahan hidup.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!