Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemerintah Wajib Menjaga Stabilitas Harga Komoditas

📅 Selasa, 06 Sep 2022, 00:03 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pemerintah Wajib Menjaga Stabilitas Harga Komoditas Doc: ISTIMEWA
Ket. Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara - Kenaikan harga BBM pasti akan berimplikasi pada kenaikan harga-harga komoditas lain termasuk kebutuhan pokok masyarakat. Peningkatan pada harga komoditas lain tersebut biasanya akan mencapai le­vel tertinggi pada bulan pertama setelah kenaikan harga BBM. Kemudian, berlanjut pada bulan kedua dan kembali normal pada bulan ketiga.

JAKARTA - Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, menegaskan pemerintah akan terus menjaga stabilitas harga komoditas di masyarakat setelah ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). "Kita berharap kenaikan harga energi ini tidak menjalar ke harga barang yang lain," katanya di Kompleks DPR RI di Jakarta, Senin (5/9).

Suahasil menuturkan kenaikan harga BBM pasti akan berimplikasi pada kenaikan harga-harga komoditas lain termasuk kebutuhan pokok masyarakat. Peningkatan pada harga komoditas lain tersebut biasanya akan mencapai level tertinggi pada bulan pertama setelah kenaikan harga BBM. Kemudian, berlanjut pada bulan kedua dan kembali normal pada bulan ketiga.

Meski demikian, Suahasil menegaskan pemerintah akan berupaya meredam tekanan yang diterima masyarakat akibat adanya kenaikan harga komoditas ini.

Menanggapi pernyataan Wamenkeu, Pakar Ekonomi dari Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI), Surabaya, Leo Herlambang, mengatakan pemerintah hanya bisa menjaga stabilitas harga komoditas bahan pokok, bukan komoditas ekspor seperti batu bara dan sejenisnya.

"Karena komoditas ekspor harganya ditentukan oleh market dunia. Sedangkan komoditas bahan pokok, sebetulnya secara rasional tentu BBM sebagai komponen pembentuk harga utama akan meningkatkan harga kebutuhan pangan," katanya.

Maka yang bisa dilakukan pemerintah dengan kewenangan yang dimiliki adalah menjamin ketersediaan suplai bahan pokok, serta BBM itu sendiri harus lancar supaya stabilitas harga tidak terganggu.

Selama ini, kata Leo, sering terjadi saat panen harga dikonsumen tidak kunjung turun, atau sebaliknya. Akan menjadi masalah kalau bukan masa panen harga bahan pokok naik, hasil bumi yang akan diantar ke konsumen terpicu oleh kekurangan produksi dan harga transportasinya naik. Kedua, pemerintah dengan kebijakannya harus bisa mengondisikan stabilitas harga di market.

Karena kalau harga sudah naik, turunnya susah. Kecuali, pemerintah konsisten jika besok harga minyak dunia turun, harus adil mengikuti harganya, ikut turun.

Terlalu Remehkan Dampak

Di bagian lain, Ekonom STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, mengatakan pemerintah tampak terlalu meremehkan dampak dari kenaikan harga BBM subsidi kali ini. Seolah-olah dengan penyaluran BLT, inflasi yang akan naik bisa diimbangi.

"Kenaikan harga BBM pasti akan berdampak pada kenaikan harga komoditas pokok dan harga lainnya. Apalagi semua kegiatan bisnis dan rumah tangga terdapat biaya transpotasi atau BBM yang sudah merupakan biaya rutin. Di negara lain saat ini kenaikan harga BBM dan energi menimbulkan inflasi yang pelik dan berlarut-larut. Jadi, jangan ada kesan menyepelekan seolah-olah beres dengan BLT," papar Aditya.

Menurut Aditya, hal yang tidak kalah penting adalah dampak psikologis telah timbul seperti pesimistis terhadap masa depan ekonomi. Nah, ini dampak pada ekonominya sudah dihitung? Pemerintah mesti kerja keras memastikan semua lini ekonomi jalan seperti sebelum BBM naik. Itu butuh kerja keras, turun ke lapangan, ketemu dengan pelaku ekonomi. Jangan karena sudah ada BLT, lalu kerja as usual," tandas Aditya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Kobaran Api Meluas, Karhutla di Gunung Bromo Belum Padam

33 menit yang lalu | Marcellus Widiarto

Daerah
Kobaran Api Meluas, Karhutl...

Mau Tujuh Belasan di Istana? Segera Daftarkan Diri

Mau Tujuh Belasan di Istana? Segera Daftarkan Diri

05 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.