Pemerintah Sementara Suriah Berjanji Tegakkan Aturan Hukum
📅 Jumat, 13 Des 2024, 02:59 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Bakr ALKASEM
DAMASKUS - Pemerintah sementara Suriah pada Kamis (12/12) berjanji untuk menegakkan aturan hukum setelah bertahun-tahun terjadi pelanggaran di bawah presiden terguling Bashar al-Assad, sementara negara-negara G7 mendorong terlaksananya transisi yang inklusif di Suriah.
Pernyataan pemerintah sementara itu diutarakan setelah al-Assad melarikan diri dari Suriah setelah terjadi erangan kilat yang dipelopori kelompok Islam Hayat Tahrir al-Sham (HTS) dan sekutunya, yang secara tiba-tiba mengakhiri lima dekade kekuasaan tangan besi klannya.
Warga Suriah di seluruh negeri dan di seluruh dunia bersorak dalam perayaan setelah melalui era di mana tersangka pembangkang dipenjara atau dibunuh, dan hampir 14 tahun perang yang menewaskan 500.000 orang dan membuat jutaan orang mengungsi.
"Kami hidup dalam penindasan, kami tidak dapat bebas berbicara," kata Ibtissam Kaab, penduduk kampung halaman Assad di Qardaha, kepada AFP. "Setiap kali kami ingin berbicara, mereka mengancam akan menyakiti kami dan anak-anak kami," imbuh dia.
Juru bicara pemerintah baru mengatakan kepada AFP pada Kamis bahwa konstitusi dan parlemen negara itu akan ditangguhkan selama masa transisi tiga bulan. "Sebuah komite peradilan dan hak asasi manusia akan dibentuk untuk memeriksa konstitusi dan kemudian memperkenalkan amandemen," kata Obaida Arnaout kepada AFP.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berbicara di markas besar televisi negara, yang direbut oleh otoritas pemberontak baru, Arnaout mengatakan mereka akan menerapkan aturan hukum. "Semua orang yang melakukan kejahatan terhadap rakyat Suriah akan diadili sesuai hukum," tegas dia.
Ketika ditanya tentang kebebasan beragama dan pribadi, Arnaout berkata "kami menghormati keberagaman agama dan budaya di Suriah," seraya menambahkan bahwa kebebasan tersebut tidak akan berubah.
Sementara itu para pemimpin negara-negara G7 pada Kamis mengatakan bahwa mereka siap mendukung transisi menuju pemerintahan yang inklusif dan non-sektarian di Suriah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam sebuah pernyataan, mereka menyerukan perlindungan hak asasi manusia, termasuk hak asasi perempuan dan kaum minoritas, sambil menekankan pentingnya meminta pertanggungjawaban rezim Assad atas kejahatannya.
Para penguasa baru di Suriah juga telah menjanjikan keadilan bagi para korban pemerintahan Assad, dengan pemimpin HTS, Abu Mohammed al-Jolani, bersumpah bahwa pejabat yang terlibat dalam penyiksaan tahanan tidak akan diampuni.
Jolani, yang kini menggunakan nama aslinya Ahmed al-Sharaa, juga mendesak negara-negara lain untuk menyerahkan siapa pun dari para penjahat yang mungkin telah melarikan diri sehingga mereka dapat diadili.
Hentikan Kegiatan
Kepada AFP, utusan PBB untuk Suriah, Geir Pedersen, juga mendesak proses yang inklusif, dan mengatakan bahwa kekhawatiran terbesarnya adalah proses transisi tersebut akan menciptakan kontradiksi baru yang dapat menyebabkan pertikaian sipil baru.
Pedersen pun mengutuk puluhan tahun kebiadaban yang tak terbayangkan yang dialami warga Suriah di pusat-pusat penahanan yang banyak menyekap musuh-musuh al-Assad.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!