Pedagang “Menjerit” Harga Daging Ayam Naik Terus
📅 Rabu, 29 Okt 2025, 01:05 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ANTARA/Siti Nurhaliza
JAKARTA – Tak hanya pembeli, pedagang pun pusing dengan kenaikan harga daging ayam yang terjadi dua bulan belakangan. Kondisi ini membuat para pedagang di Pasar Ciracas, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, kesulitan membayar sewa lapak. “Harga yang semula berkisar 50.000 per kilogram, kini menembus 60.000. Dampaknya, pembeli makin langka. Bahkan sebagian pedagang memilih menutup lapaknya karena sepi transaksi,” ujar salah satu pedagang daging ayam di Pasar Ciracas bernama Meli (36) di Jakarta, Selasa.
Meli yang sudah bertahun-tahun berjualan di Pasar Ciracas itu mengaku harus memutar otak agar usahanya tetap bertahan di tengah turunnya daya beli masyarakat. Salah satu cara yang dilakukan, mengurangi jumlah belanja harian sehingga tidak banyak stok. “Belanjanya jadi tidak usah banyak-banyak, biar tak banyak stok,” jelas Meli.
Pedagang daging ayam lainnya, Sari (38), mengaku sebelum harga daging ayam naik, mampu menjual 50 sampai 60 kilogram daging ayam per hari. Saat ini, paling hanya bisa menjual 30 hingga 40 kilogram. Meski begitu, Sari masih bersyukur karena memiliki pelanggan tetap. Salah satunya rumah makan sekitar pasar. Ini membantu perputaran barang dagangan.
“Untungnya kita masih punya langganan, kayak rumah makan gitu. Jadi masih bisa muter uangnya. Kalau sisa, ya, saya taruh lagi, besok dijual lagi,” ucap Sari. Di sisi lain, dia menyebutkan kenaikan harga daging ayam tidak stabil. Harga sempat turun sekitar 2.000 sampai 3.000 per kilogram. Namun, penurunan hanya bertahan sebentar. Tak lama kemudian, harga kembali melonjak lebih dari 5.000 sehingga membuat warga berpikir ulang sebelum membeli daging ayam.
“Sempat turun sedikit, tapi enggak lama. Tiba-tiba naik lagi, malah lebih tinggi. Ya, bingung juga jadinya,” ungkap Sari. Kondisi itu membuat banyak pedagang kecil di Pasar Ciracas menyerah. Beberapa di antara mereka bahkan memilih berhenti berjualan atau pindah ke lokasi lain yang dianggap lebih ramai.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ada juga yang berubah menjual barang lain karena keuntungan dari daging ayam tak lagi sebanding dengan biaya operasional dan sewa lapak di pasar. “Sekarang pedagang ayam juga sudah banyak. Di luar pasar juga ada kios yang jualan. Jadi persaingannya makin berat,” tutur Sari. Selain berdampak pada pedagang daging ayam, kenaikan harga juga memukul pelaku usaha kuliner yang menggunakan ayam sebagai bahan utama.
Menurut Sari, beberapa pelanggan rumah makan bahkan mengurangi pesanan. Sedangkan sebagian lainnya memilih tutup sementara hingga harga kembali normal. Dia pun berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga. Para pedagang juga minta adanya pengawasan terhadap distribusi dan pasokan ayam agar tidak terjadi permainan harga di tingkat pengepul.
Cabai-Bawang
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat harga cabai rawit merah secara nasional turun menjadi 38.604 per kilogram (kg) dari 39.856 per kg. HDemikian juga dengan harga bawang merah yang turun menjadi 37.879 dari 39.328 per kg.
Berdasarkan data dari Panel Harga Bapanas dilansir di Jakarta, Sabtu pukul 09.00 WIB harga pangan lainnya di tingkat pedagang eceran secara nasional beras premium di harga 15.643 turun dari 15.833 per kg.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!