Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

-

Menyelamatkan Negara dari Jerat Para Koruptor

📅 Senin, 02 Okt 2017, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Menyelamatkan Negara dari Jerat Para Koruptor Doc: istimewa

Judul : Korupsi: Akar, Aktor, dan Locus

Penulis : Leo Agustino & Indah Fitriani

Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Cetakan : Juni 2017

Tebal : x + 222 halaman

ISBN : 928-602-229-751-2

Sejak awal kemerdekaan, pemberantasan korupsi sudah dilakukan, terutama ketika Presiden Soekarno mendirikan Badan Pengawas Kegiatan Aparatur Negara pada 1959. Setelah itu dibentuk lembaga Panitia Retooling Aparatur Negara (hlm 2-3)

Pada era Orde Baru, berdasarkan Keppres No 228 Tahun 1967 dibentuk Tim Pemberantasan Korupsi. Kemudian pada masa Presiden BJ Habibie lahir Komisi Pengawas Kekayaan Pejabat Negara, Komisi Pengawas Persaingan Usaha, atau Lembaga Ombudsman. Selanjutnya, Presiden Abdurrahman Wahid membentuk Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Barulah tahun 2002, Presiden Megawati membidani kelahiran Komisi Pemberantasan Korupsi.

Mencermati sejarah tersebut, Indonesia mengalami perjalanan panjang dan terjal untuk mewujudkan cita-cita menjadi negara bersih dan bebas korupsi. Berdasarkan data Transparency International Indonesia, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia pada 2016 naik satu poin ke 37 dari angka tertinggi 100. Tetapi secara global, posisi Indonesia masih di urutan ke-90 dari 176 negara (hlm. 200)

Skor Indonesia ini masih berada di bawah Malaysia (49 poin), Brunei (58), dan Singapura (85). Sementara Indonesia di atas Filipina (35 poin), Thailand (35), Vietnam (33), Myanmar (28), dan Kamboja (21).

Buku ini serasa audit forensik korupsi secara menyeluruh mulai dari akar, aktor, sampai lokasi dan sektor yang rentan terjangkiti penyakit korupsi. Rose-Ackerman, dalam Corruption: A Study in Political Economy (1978), memandang bahwa korupsi disebabkan keserakahan, keperluan, dan peluang. Dalam perspektif berbeda, buku ini membagi jaring korupsi karena akar antropologis, sosiologis (lingkungan, masyarakat dan keluarga), dan ekonomi-politik (hlm 30).

Meminjam pepatah "mati satu tumbuh seribu," pelaku korupsi pun demikian: tertangkap satu tumbuh seribu koruptor. Pelakunya beragam mulai dari menteri, DPR, DPRD, MK, MA, bea cukai, pajak, kepala daerah tingkat, birokrat pusat daerah hingga TNI-polisi (hlm 200).

Buku ini juga mengungkap sektor-sektor yang kerap dijarah. Akan tetapi, secara khusus disorot bidang politik, birokrasi, dan rekrutmen Calon Pegawai Negeri Sipil. Buku ini tidak hanya mengurai akar, aktor, dan locus korupsi, tetapi juga menawarkan solusi pemberantasannya.

Salah satunya dengan belajar dari negara yang selalu dinobatkan sebagai paling kecil tingkat korupsinya: Denmark, Finlandia, Swedia, dan Selandia Baru. Swedia, misalnya, pada 150-200 tahun yang lalu merupakan negara yang amat korup, tetapi kini justru menjadi salah satu yang paling bersih. Pemberantasan korupsi di Swedia tidak hanya diatasi dengan menangkap dan menghukum pelaku, tetapi dengan membangun kultur dan sistem baru agar perbuatan korupsi disejajarkan dengan pengkhianatan negara (hlm 204).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Langkah Fajar/Fikri Berakhir di Babak 32 Besar

10 menit yang lalu | Fajar Alim M

Olahraga
Langkah Fajar/Fikri Berakhi...
Megapolitan
Voting Bipartisan DPR AS Pu...

Kejagung Resmi Tahan Mantan Pejabat BGN

40 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Kejagung Resmi Tahan Mantan...

DPR Merespons Berbagai Isu Terkini

1 jam lalu | Fajar Alim M

Nasional
DPR Merespons Berbagai Isu ...
Luar Negeri
Presiden Marcos Jr Desak Pa...
Luar Negeri
Thaksin Shinawatra Diberi P...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.