Mental Biang Kegagalan Hong Kong Open
📅 Senin, 15 Sep 2025, 07:27 WIB | Oleh: Benny Mudesta Putra
Doc: Foto PBSI
JAKARTA - Indonesia kembali pulang tanpa wakil di final Hong Kong Open 2025. Hasil ini bukan sekadar catatan kekalahan, melainkan refleksi pembinaan atlet yang masih menyisakan celah, terutama pada aspek psikologis. Satu-satunya harapan sempat ditumpukan kepada ganda campuran Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil. Namun langkah mereka terhenti di semifinal usai ditaklukkan pasangan Tiongkok, Guo Xin Wa/Chen Fang Hui, dengan skor 18-21 dan 12-21, Sabtu (13/9).
Perjalanan Adnan/Indah sejatinya patut diapresiasi. Mereka berhasil menyingkirkan unggulan keempat asal Thailand, Dechapol Puavaranukroh/Supissara Paewsampran, serta menggulingkan pasangan tuan rumah, Tang Chun Man/Tse Ying Suet, unggulan lima. Kemenangan itu membuktikan kapasitas teknik yang tidak kalah bersaing.
Namun, masalah klasik kembali muncul: kematangan mental. “Di momen krusial, kita sering melihat pasangan muda kehilangan konsistensi. Padahal secara teknik dasar seperti footwork, drive, maupun variasi pukulan mereka sudah bagus. Yang hilang justru kendali psikologis,” ujar pengamat bulu tangkis, Muh Khamdan.
Dalam laga semifinal, Adnan/Indah terlihat terburu-buru mengeksekusi serangan. Transisi dari bertahan ke menyerang terlambat, dan footwork belum cukup efisien menghadapi tempo cepat lawan. Ketika tertinggal 5-10 di gim kedua, bahasa tubuh mereka mulai menurun. Dari situlah dominasi lawan terbentuk hingga skor akhir 12-21.
Sebaliknya, pasangan Tiongkok tampil lebih tenang. Saat tertekan, mereka sabar membangun rally panjang, menjaga akurasi, dan tidak gegabah. “Inilah perbedaan mendasar. Atlet kita punya teknik berkelas, tapi lawan punya mental matang. Itu yang membuat mereka stabil di poin-poin penting,” tambah Khamdan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Fenomena ini bukan sekali dua kali terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir, ganda Indonesia sering terhenti di perempat final atau semifinal, tetapi gagal melangkah ke partai puncak. Polanya sama: teknik menjanjikan, mental belum siap. Menurut Khamdan, persoalan ini terkait sistem pembinaan.
“Latihan kita masih dominan aspek fisik dan teknik. Mental toughness training, simulasi pertandingan bertekanan tinggi, hingga pendampingan psikolog olahraga seharusnya masuk program rutin. Tanpa itu, atlet akan kesulitan saat berhadapan dengan atmosfer semifinal atau final turnamen besar,” ujarnya.
Hong Kong Open 2025 memberikan pelajaran penting. Kejutan teknis bisa membawa wakil Indonesia ke babak empat besar, tetapi podium juara hanya bisa diraih dengan mental baja. ben/G-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!