Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Konsumsi Tak Cukup Pacu Ekonomi, Diversifikasi Sumber Pertumbuhan Jadi Kebutuhan Mendesak

📅 Selasa, 30 Des 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Konsumsi Tak Cukup Pacu Ekonomi, Diversifikasi Sumber Pertumbuhan Jadi Kebutuhan Mendesak Doc: istimewa
Ket. Prospek Perekonomian - Tantangan Ekonomi ke Depan Diperkirakan Masih Cukup Berat

Fondasi ekonomi nasional perlu diperkuat melalui belanja pemerintah yang produktif dan berdaya ungkit tinggi, serta strategi ekspor yang menekankan peningkatan nilai tambah komoditas.

JAKARTA – Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan diperkirakan menghadapi risiko stagnasi yang mencerminkan terbatasnya sumber pendorong pertumbuhan. Kondisi ini menuntut penguatan fundamental ekonomi domestik dengan mengurangi kebergantungan pada daya beli masyarakat semata.

Untuk itu, belanja pemerintah perlu dioptimalkan agar menghasilkan multiplier effect atau dampak berganda yang lebih kuat. Pada saat bersamaan, pengembangan sektor ekspor berbasis komoditas bernilai tambah tinggi menjadi kunci untuk membuka sumber pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5 persen secara tahunan atau di bawah target pemerintah di 5,4 persen. Meski mencerminkan stabilitas, dia menegaskan pemerintah tidak dapat terus bergantung pada konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama pertumbuhan.

Menurutnya, pengaktifan sumber-sumber pertumbuhan lain menjadi keharusan untuk menjaga keberlanjutan ekonomi nasional. “Jadi cukup sudah ya, konsumsi rumah tangga ini sudah terlalu lama ya mendominasi dan berkontribusi secara dominan terhadap pertumbuhan ekonomi (domestik),” ujarnya dalam diskusi publik Catatan Akhir Tahun INDEF: Liburan di Tengah Tekanan Fiskal yang disiarkan secara daring, Senin (29/12).

Esther menilai tantangan ekonomi ke depan masih cukup berat, dipengaruhi ketidakpastian geopolitik global dan fragmentasi perdagangan internasional. Di dalam negeri, pemulihan ekonomi juga dinilai belum optimal akibat tekanan harga pangan dan energi serta daya beli masyarakat yang masih terbatas.

Tingginya ketergantungan pada impor, baik barang modal maupun pangan, turut memperlemah fundamental ekonomi karena aliran devisa kembali keluar negeri. Kondisi ini membuat daya saing Indonesia relatif lebih rentan dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara yang dinilai memiliki ketahanan pertumbuhan ekonomi lebih kuat dalam menghadapi gejolak global.

Untuk itu, Esther menilai pentingnya penguatan fundamental ekonomi domestik dengan tidak meletakkan seluruh beban pertumbuhan pada daya beli masyarakat semata. Dia menuturkan belanja pemerintah (government spending) harus berperan lebih efektif dalam menghasilkan multiplier effect terhadap perekonomian rakyat, sedangkan sektor ekspor perlu dikembangkan untuk memproduksi lebih banyak komoditas bernilai tambah tinggi.

Indef memperkirakan belanja barang dan jasa pemerintah pada 2026 masih bergerak melambat. Arah kebijakan fiskal yang memusatkan anggaran pada program-program unggulan dinilai memberi tekanan pada sektor lain.

Esther menilai perlambatan tersebut terjadi karena porsi besar anggaran negara dialokasikan untuk program prioritas, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih, sehingga ruang belanja untuk sektor lainnya menjadi terbatas.

Kinerja APBN

Seperti diketahui, realisasi belanja negara hingga 30 November 2025 tercatat sebesar 2.911,8 triliun rupiah atau 82,5 persen terhadap outlook laporan semester, sementara pendapatan mencapai 2.351,5 triliun rupiah atau 82,1 persen dari outlook laporan semester.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meniai kinerja APBN berjalan on-track dan dioptimalkan untuk mendukung program prioritas serta katalis pertumbuhan ekonomi. “Hingga 30 November 2025, realisasi APBN menunjukkan kinerja yang tetap terjaga,” ungkap Menkeu.

Pada 2026, sekitar 66,8 persen belanja pemerintah dialokasikan untuk delapan program prioritas dengan total anggaran 2.567,9 triliun rupiah dari APBN sekitar 3.842 triliun rupiah. Program tersebut meliputi Program Pendidikan Bermutu; Program Ketahanan Energi; Program Makan Bergizi Gratis (MBG); Program Ketahanan Pangan; Program Kesehatan Berkualitas; Program Pembangunan Desa, Koperasi, dan UMKM; Program Pertahanan Semesta; dan Program Akselerasi Investasi dan Perdagangan Global.

Like, Share, Comment:

Komentar (1)

Spongo Esse
Spongo Esse
30 Mar 2026, 02:02 WIB.

Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam

Balas
Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
PT KAI Tutup 116 Perlintasa...
Ekonomi
Menkeu Ungkap Banyak Rumor ...

Wali Kota Bogor Aktivasi Museum Pajajaran

58 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
Wali Kota Bogor Aktivasi Mu...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.