Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

KLHK Akan Canangkan Gerakan Nasional 'Compost Day-Kompos Satu Negeri'

📅 Rabu, 22 Feb 2023, 18:46 WIB | Oleh:
KLHK Akan Canangkan Gerakan Nasional 'Compost Day-Kompos Satu Negeri' Doc: Istimewa
Ket. Dirjen PSLB3, Rosa Vivien Ratnawati pada diskusi pojok iklim yang digelar secara daring dan luring, di Jakarta, Rabu (22/2).

JAKARTA - Guna mencapaitarget zero waste zero emission dari subsektor sampah, sudah sepatutnya pengelolaan sampah organik yang baik dan benar menjadi determinan. Jadi diperlukan aksi nyata pengelolaan sampah organik yang lebih masif dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Karena itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam hal ini Direktorat Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) menginisiasi Gerakan Nasional "Compost Day - Kompos Satu Negeri". Kampanye nasional ini akan dicanangkan Menteri LHK, Siti Nurbaya di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (26/2).

Dirjen PSLB3, Rosa Vivien Ratnawati mengatakan hal itu ketika menjadi pembicara kunci dalam 'Diskusi Pojok Iklim' bertema "Kontribusi Pengelolaan Sampah Organik di Sumber Terhadap Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca" yang digelar secara daring dan luring di Jakarta, Rabu (22/2).

Menurut siaran persnya, Dirjen Vivien mengatakan melalui gerakan nasional ini, KLHK menegaskan sampah merupakan tanggung jawab bersama. "Saya harap kegiatan ini dapat menjadi momentum yang baik untuk menuntaskan masalah sampah di Indonesia dengan partisipasi aktif masyarakat sejak dari sumber," katanya.

Diharapkan, seluruh masyarakat di Indonesia dapat memilah dan mengolah sampah organik yang berasal dari rumah tangga secara mandiri.

"Jika seluruh masyarakat Indonesia melakukan pengomposan sampah organik sisa makanan setiap tahunnya secara mandiri di rumah, maka 10,92 juta ton sampah organik tidak dibawa ke TPA, dan dapat menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 6,834 juta ton CO2eq," ujar Rosa Vivien.

Diskusi Pojok Iklim yang yang diikuti lebih 400 peserta berbagai kalangan ini, dimoderatori peneliti BRIN Sri Wahyono dan menghadirkan dua narasumber yaitu Wali Kota Depok, M. Idris yang kemudian diwakili Asisten, Sidik Mulyono serta penggagas Koperasi Kompos PKK RW 16 Kelurahan Penggilingan, Jakarta Timur, Shanti Syahril.

Kedua narasumber ini memberikan paparan kontribusi yang selama ini dilakukan yakni Pemkot Depok dengan penerapan sistem "Partai Ember", yaitu pemilahan sampah organik di setiap rumah. Begitu Koperasi Kompos yang digagas oleh Shanti Syahril dan telah memberikan kontribusi besar dalam kaitan pemilihan dan pengolahan sampah meski masih di tingkat RW.

Lebih lanjut Dirjen PSLB3 mengatakan berdasarkan data KLHK tahun 2022, jumlah timbulan sampah di Indonesia adalah sebesar 68,7 juta ton/tahun dengan komposisi sampah didominasi oleh sampah organik, khususnya sampah sisa makanan yang mencapai 41,27%. Kurang lebih 38,28% dari sampah tersebut bersumber dari rumah tangga. Selain itu, untuk konteks lebih global, sampah organik juga merupakan kontributor utama emisi gas rumah kaca jika tidak terkelola dengan baik.

Berdasarkan data KLHK Tahun 2022, papar Rosa Vivien, sekitar 65,83% sampah di Indonesia masih diangkut dan ditimbun di landfill. Sampah organik sisa makanan yang ditimbun di landfill tersebut akan menghasilkan emisi gas metana (CH4) yang memiliki kekuatan 25 kali lebih besar dalam memerangkap panas di atmosfer dibandingkan karbon dioksida (CO2), sehingga berkontribusi besar dalam perubahan iklim.

"Ledakan gas metana juga yang menjadi salah satu penyebab terjadinya longsor di TPA Leuwi Gajah pada tahun 2005 dikarenakan sebagian besar sampah organik ditimbun di landfill yang dikelola secara open dumpin," ungkap Dirjen Rosa Vivien memberi contoh.

Dikemukakan Rosa Vivien, untuk mengenang tragedi tersebut, setiap tanggal 21 Februari Indonesia memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) sebagai konstelasi perjalanan panjang sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Peristiwa di TPA Leuwigajah tidak hanya berimplikasi pada shifting perhatian dan fokus ke pengelolaan sampah terintegrasi, namun dampak yang lebih besar terjadi terhadap lingkungan dan ekosistem kehidupan global yaitu perubahan iklim.

Terkait Gerakan Nasional "Compost Day - Kompos Satu Negeri", Dirjen PSLB3 Rosa Vivien mengungkapkan, saat ini terdapat dua masalah utama dalam pengelolaan sampah organik di Indonesia. Pertama, tidak dilakukan pemilahan sampah organik oleh masyarakat. Kondisi tersebut mengakibatkan sampah organik yang tercampur dengan sampah anorganik akan sulit dilakukan pengolahan lanjutan, misalnya melalui metode pengomposan atau budidaya maggot black soldier fly.

"Kondisi tercampur ini dapat mengakibatkan proses pengolahan menjadi tidak optimal dan nilai ekonominya akan menurun sehingga dapat menghambat kegiatan ekonomi sirkular," ujar Rosa Vivien..

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp84.400/...
Daerah
Bus Transjateng Akan Tambah...

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

44 menit yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
Olahraga
Janice Tjen Mulus ke Peremp...
Nasional
Grab Tegaskan Rumor Hengkan...
Ekonomi
Berpotensi Melemah Lanjutan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.