Kemenkop Peras Peluang, Pacu Penambahan Pabrik Susu demi Program Gizi Gratis
📅 Selasa, 22 Apr 2025, 17:27 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
BOGOR - Peningkatan produksi susu dalam negeri dapat mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan ketersediaan susu untuk program Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain itu, MBG juga dapat mendorong peternak lokal untuk meningkatkan produksi susu karena adanya permintaan yang stabil dan besar dari program tersebut.
Program MBG dapat memperkuat rantai pasok peternakan karena adanya permintaan susu yang stabil dan besar dari program tersebut. Susu merupakan sumber nutrisi penting, termasuk protein dan kalsium, yang sangat dibutuhkan oleh anak-anak untuk pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Kementerian Koperasi (Kemenkop) RI terus berupaya memperbanyak tempat pengolahan susu milik koperasi untuk menyukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) Ferry Juliantono saat hadir dalam peresmian Rumah Susu Unit Sentul milik Koperasi Konsumen Kujang Sauyunan Berdikari di Babakanmadang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (22/4).
"Rumah Susu milik koperasi ini yang melayani dapur-dapur di program Makan Bergizi Gratis," ungkap Ferry.
Sebaiknya Anda baca juga:
Upaya tersebut dilakukan melalui Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang ditargetkan sebanyak 80 ribu Kopdes seluruh Indonesia, juga bisa mendirikan unit pengolahan susu sendiri, di samping unit-unit usaha lain yang bisa digeluti.
"Unit Pengolahan Susu bisa menjadi salah satu unit usaha Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih," ujarnya.
Menurut dia, Rumah Susu ini menjadi salah satu simpul kunci dalam rantai pasok susu nasional, yang tidak hanya menyuplai kebutuhan gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga menggerakkan sektor koperasi dan peternakan rakyat di hulu.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Rumah Susu hadir sebagai upaya nyata mengangkat nilai tambah susu segar dari peternak sapi perah lokal," kata dia.
Di acara yang dihadiri Menteri Bappenas Rachmat Pambudy, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, dan Ketua Koperasi Kujang Sauyunan Berdikari Muchlido Apriliast, Ferry bercerita pengalaman di Boyolali terkait kisruh susu peternak lokal.
Ketika itu, kata dia, banyak produksi hasil susu dari para peternak dan koperasi tidak terserap Industri Pengolahan Susu (IPS).
"Maka, saya selalu menekankan bahwa koperasi harus memiliki IPS sendiri. Saya mengapresiasi Koperasi Konsumen Kujang Sauyunan Berdikari karena mampu membangun dan mengembangkan konsep Rumah Susu," terang Ferry.
Koperasi tersebut juga mampu membuat ekosistem sendiri dalam mata rantai MBG, yakni memiliki pengolahan susu sendiri, juga membuat dapur MBG.
Sementara, Kepala BGN Dadan Hindayana menegaskan susu merupakan produk wajib untuk program MBG, khususnya di daerah yang memiliki peternakan sapi perah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!