Kematian Dini Terkait Polusi Udara Meningkat di Asia Tenggara
📅 Selasa, 04 Nov 2025, 02:30 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: AFP/Madaree TOHLALA
SINGAPURA – Menurut penelitian terbaru, bahkan di dunia yang berkomitmen untuk mengatasi perubahan iklim, kematian dini yang terkait dengan polusi udara masih dapat meningkat di Asia Tenggara.
Kematian dini dianggap demikian apabila terjadi sebelum harapan hidup rata-rata, biasanya karena penyebab yang dapat dicegah seperti faktor sosial-ekonomi dan lingkungan.
Temuan para peneliti dari Nanyang Technological University (NTU) dan Universitas Politeknik Makau di Tiongkok menunjukkan bahwa langkah-langkah yang diambil untuk mengatasi perubahan iklim belum tentu membantu mengurangi polusi udara. Langkah-langkah yang terarah untuk mengurangi pelepasan partikel beracun juga diperlukan untuk menjaga keselamatan masyarakat.
Aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan, merupakan pendorong utama perubahan iklim. Gas-gas ini memerangkap panas matahari sehingga meningkatkan suhu global.
Di wilayah tersebut, PM2.5 – partikel halus yang merupakan komponen utama polusi udara – berasal langsung dari sumber seperti pembakaran bahan bakar fosil dan gas buang kendaraan, atau terbentuk dari reaksi kimia antara gas-gas di udara.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada tahun 2024, lebih dari 90 persen penduduk di Asia Timur dan Tenggara menghirup udara yang dianggap tidak aman oleh Organisasi Kesehatan Dunia, menurut situs web Program Lingkungan PBB.
"Pada tahun 2019, 64 persen dari total polusi PM2.5 di wilayah tersebut berasal dari sumber-sumber seperti pembakaran biomassa seperti kayu, aktivitas perumahan, dan pembakaran bahan bakar fosil," kata Steve Yim, yang memimpin penelitian tersebut.
Polutan ini, yang diameternya tidak lebih dari 2,5 mikrometer, dapat menembus paru-paru dan aliran darah, menyebabkan penyakit pernapasan dan kardiovaskular.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Mereka dipengaruhi oleh kondisi iklim dan meteorologi, seperti angin, suhu, dan kelembapan. Setiap parameter mempengaruhi bagaimana polutan terbentuk, tersebar, dan dihilangkan," kata Yim, yang juga mengepalai Pusat Perubahan Iklim dan Kesehatan Lingkungan NTU.
Belum Dievaluasi
Namun, dampak yang disebabkan oleh iklim terhadap PM2.5, kesehatan manusia, dan ekonomi di Asia Tenggara belum dievaluasi secara menyeluruh, ungkap studi tersebut.
Tim menggunakan model iklim dan kualitas udara regional serta data iklim masa depan untuk menentukan bagaimana perubahan iklim akan mempengaruhi konsentrasi PM2.5 di Asia Tenggara pada tahun 2050. Untuk mengisolasi dampak perubahan iklim, mereka berasumsi tidak ada perubahan polusi udara di wilayah tersebut dan menjaga tingkat emisi tetap konstan.
Kemudian, para peneliti memodelkan bagaimana konsentrasi PM2.5 di seluruh wilayah akan berubah dalam tiga skenario iklim.
Namun nyatanya jumlah kematian dini masih akan meningkat dalam dua skenario. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan 7,2 persen dalam kematian dini dan kerugian ekonomi akan meningkat dari 560 miliar menjadi 580,5 miliar dollar AS, menurut penelitian tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!