Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kematian Dini Terkait Polusi Udara Meningkat di Asia Tenggara

24 Selasa, 04 Nov 2025, 02:30 WIB | Oleh:
Kematian Dini Terkait Polusi Udara Meningkat di Asia Tenggara Kematian Dini Terkait Polusi Udara Meningkat di Asia Tenggara Doc: AFP/Madaree TOHLALA
Ket. Anak-anak sekolah di Provinsi Narathiwat, Thailand, mengenakan masker saat terjadi polusi asap beberapa waktu lalu. Sebuah studi terkini menyatakan bahwa kematian dini yang terkait dengan polusi udara masih dapat meningkat di Asia Tenggara.

SINGAPURA – Menurut penelitian terbaru, bahkan di dunia yang berkomitmen untuk mengatasi perubahan iklim, kematian dini yang terkait dengan polusi udara masih dapat meningkat di Asia Tenggara.

Kematian dini dianggap demikian apabila terjadi sebelum harapan hidup rata-rata, biasanya karena penyebab yang dapat dicegah seperti faktor sosial-ekonomi dan lingkungan.

Temuan para peneliti dari Nanyang Technological University (NTU) dan Universitas Politeknik Makau di Tiongkok menunjukkan bahwa langkah-langkah yang diambil untuk mengatasi perubahan iklim belum tentu membantu mengurangi polusi udara. Langkah-langkah yang terarah untuk mengurangi pelepasan partikel beracun juga diperlukan untuk menjaga keselamatan masyarakat.

Aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan, merupakan pendorong utama perubahan iklim. Gas-gas ini memerangkap panas matahari sehingga meningkatkan suhu global.

Di wilayah tersebut, PM2.5 – partikel halus yang merupakan komponen utama polusi udara – berasal langsung dari sumber seperti pembakaran bahan bakar fosil dan gas buang kendaraan, atau terbentuk dari reaksi kimia antara gas-gas di udara.

Pada tahun 2024, lebih dari 90 persen penduduk di Asia Timur dan Tenggara menghirup udara yang dianggap tidak aman oleh Organisasi Kesehatan Dunia, menurut situs web Program Lingkungan PBB.

"Pada tahun 2019, 64 persen dari total polusi PM2.5 di wilayah tersebut berasal dari sumber-sumber seperti pembakaran biomassa seperti kayu, aktivitas perumahan, dan pembakaran bahan bakar fosil," kata Steve Yim, yang memimpin penelitian tersebut.

Polutan ini, yang diameternya tidak lebih dari 2,5 mikrometer, dapat menembus paru-paru dan aliran darah, menyebabkan penyakit pernapasan dan kardiovaskular.

"Mereka dipengaruhi oleh kondisi iklim dan meteorologi, seperti angin, suhu, dan kelembapan. Setiap parameter mempengaruhi bagaimana polutan terbentuk, tersebar, dan dihilangkan," kata Yim, yang juga mengepalai Pusat Perubahan Iklim dan Kesehatan Lingkungan NTU.

Belum Dievaluasi

Namun, dampak yang disebabkan oleh iklim terhadap PM2.5, kesehatan manusia, dan ekonomi di Asia Tenggara belum dievaluasi secara menyeluruh, ungkap studi tersebut.

Tim menggunakan model iklim dan kualitas udara regional serta data iklim masa depan untuk menentukan bagaimana perubahan iklim akan mempengaruhi konsentrasi PM2.5 di Asia Tenggara pada tahun 2050. Untuk mengisolasi dampak perubahan iklim, mereka berasumsi tidak ada perubahan polusi udara di wilayah tersebut dan menjaga tingkat emisi tetap konstan.

Kemudian, para peneliti memodelkan bagaimana konsentrasi PM2.5 di seluruh wilayah akan berubah dalam tiga skenario iklim.

Namun nyatanya jumlah kematian dini masih akan meningkat dalam dua skenario. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan 7,2 persen dalam kematian dini dan kerugian ekonomi akan meningkat dari 560 miliar menjadi 580,5 miliar dollar AS, menurut penelitian tersebut.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim dan polusi PM2.5 yang saling terkait, memerlukan strategi manfaat bersama untuk mengatasinya, kata Yim. Ia mencatat bahwa kebijakan mitigasi iklim yang gagal mengatasi polusi udara dapat memperburuk beban kesehatan dan ekonomi di wilayah tropis yang rentan dan kurang terwakili. SB/ST/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Homepage Mobile Atas
Advertisement
Homedec Homepage

UNDP Desak Percepatan Investasi Hijau

30 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
UNDP Desak Percepatan Inves...

Lisa Blackpink Rilis Video Musik “Tarantino”

33 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Rona
Lisa Blackpink Rilis Video ...
Luar Negeri
Tiongkok Tetapkan Status Si...

NASA: El Nino 2026 Mirip Peristiwa 1997

48 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
NASA: El Nino 2026 Mirip Pe...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
BMKG Prakirakan Mayoritas Cuaca Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Ringan Sabtu Ini

BMKG Prakirakan Mayoritas Cuaca Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Ringan Sabtu Ini

24 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.