Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Indonesia Kini Diambang Darurat Pangan

📅 Selasa, 14 Nov 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Indonesia Kini Diambang Darurat Pangan Doc: ISTIMEWA
Ket. Ketahanan Pangan

» Rencana impor seharusnya tidak disampaikan oleh Mentan, karena tugasnya adalah mencegah impor dengan perbaikan subsidi pupuk dan memberi bantuan benih unggul.

» Negara mana yang siap jadi eksportir beras ke Indonesia. Bukankah mereka juga berupaya mendorong kecukupan stok dalam negerinya.

JAKARTA - Indonesia sudah diambang darurat pangan. Hal itu terlihat pada sikap pemerintah yang sudah mulai panik dengan kenaikan harga beras sehingga harus memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan mengimpor beras.

Kalau semula hanya menargetkan impor beras pada tahun ini dua juta ton untuk menjaga stok, kini impor beras diputuskan naik menjadi 3,5 juta ton dan berpeluang melonjak jadi lima juta ton pada 2024 mendatang.

Hal itu disampaikan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta, Senin (13/11).

Mentan dalam kesempatan itu mengatakan meningkatnya impor karena tantangan sektor pertanian yang semakin kompleks dan potensi krisis pangan dunia.

"Meningkatnya permintaan pangan pascapandemi Covid-19 menyebabkan harga pangan semakin mahal yang dapat mendorong terjadinya darurat pangan global dan dapat berpotensi mengancam stabilitas sosial ekonomi dan politik Indonesia. Tahun ini, Indonesia memutuskan untuk mengimpor 3,5 juta ton beras dan berpeluang mencapai lima juta tahun 2024," kata Mentan.

Lebih lanjut, dia menjelaskan pertimbangan menambah impor beras tahun ini 1,5 juta ton dari semula dua juta ton menjadi 3,5 juta ton untuk menjaga stabilisasi harga dan pasokan beras jelang akhir 2023 dan pesta demokrasi pemilu pada Februari 2024.

Penambahan kuota impor juga karena ada restriksi ekspor dari negara-negara produsen pangan dan El Nino (kekeringan) yang berdampak terhadap penurunan produksi beras dari yang tahun lalu 31 juta ton dan menjadi 30 juta ton pada tahun ini.

"Untuk itu perlu segera dilakukan upaya khusus percepatan peningkatan produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat," kata Amran.

Petani Dipinggirkan

Menanggapi tambahan kuota impor beras itu, Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudisthira, mengatakan kalau sampai pemerintah mengimpor lima juta ton, hal itu menandakan tidak ada upaya serius untuk menaikkan produksi dalam negeri.

"Kalau impornya sebanyak itu, artinya petani memang makin dipinggirkan," tegas Bhima.

Dia menyayangkan pernyataan tambahan kuota impor itu keluar dari mulut Mentan. Rencana impor seharusnya tidak disampaikan oleh Mentan, apalagi baru menjabat. "Tugas Mentan adalah mencegah impor dengan perbaikan subsidi pupuk, bantuan benih unggul tahan cuaca ekstrem dan membenahi seluruh irigasi dan sumur. Kita jadi pesimis bahwa sektor pertanian di dalam negeri kurang menjanjikan dalam jangka pendek dan panjang," tukasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

DPR Merespons Berbagai Isu Terkini

43 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
DPR Merespons Berbagai Isu ...
Luar Negeri
Presiden Marcos Jr Desak Pa...
Luar Negeri
Thaksin Shinawatra Diberi P...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.