Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Energi Kotor, Sudah Mahal Juga Mematikan

📅 Jumat, 30 Jul 2021, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Energi Kotor, Sudah Mahal Juga Mematikan Doc: ANTARA/NOVA WAHYUDI
Ket. EKSPLOITAS BATU BARA I Sejumlah kapal tongkang pengangkut batubara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan. Indonesia yang hanya memiliki tiga persen cadangan batu bara dunia, namun eksploitasi batu bara terus-menerus dilakukan. Saat ini, Indonesia menjadi negara nomor satu pengekspor batu bara di dunia.

JAKARTA - Kurang seriusnya Indonesia mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan dampaknya sangat mahal. Beberapa peluang bisnis terancam gagal karena Indonesia masih terus mengembangkan energi kotor yang sangat polutif.

Dampak nyata sudah terlihat, perusahaan mobil listrik raksasa asal Amerika Serikat, Tesla, yang beberapa waktu lalu digaung-gaungkan akan menanamkan modal di Indonesia di bidang baterai untuk pembuatan mobil listrik, kini tidak ada kelanjutannya.

Bahkan, kabar terbaru menyebutkan bahwa perusahaan pertambangan Inggris-Australia, BHP, telah mencapai kata sepakat dengan Tesla untuk menyediakan pasokan nikel di Australia Barat. Nikel merupakan logam penting dalam memproduksi baterei bertenaga tinggi untuk mobil listrik.

Mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar, di akun Instagram pribadinya, @arcandra.tahar, memberi beberapa alasan mengapa perjanjian Tesla-BHP tersebut bisa terjadi. Pertama, Tesla menunjukkan usaha dan berpartisipasi dalam mengurangi dampak perubahaan iklim. Sedangkan BHP adalah salah satu perusahaan tambang yang sangat peduli dengan lingkungan dan berhasil menjadi penambang nikel dengan emisi CO2 terkecil.

Kemudian, kesamaan visi antara Tesla dan BHP dalam mengatasi masalah kerusakan lingkungan akibat kegiatan bisnis yang tidak berorientasi ramah lingkungan. Tesla dan BHP berkomitmen untuk punya usaha yang berkelanjutan (sustainable) dan andal, sehingga kegiatan bisnis mereka bisa bertahan lama. "Pandangan jauh ke depan dari kedua perusahaan ini akan saling menguatkan posisi mereka di mata investor," ungkap Arcandra.

Dalam jangka pendek, memang akan ada biaya lebih yang harus dikeluarkan penambang ramah lingkungan. Namun, biaya tenaga kerja yang lebih mahal di Australia bukan menjadi pertimbangan investor untuk menanamkan modalnya. Paling tidak bukan sebagai faktor penentu investor berinvestasi di sana.

Menurut Arcandra, investor lebih punya ketertarikan terhadap perusahaan dan peluang bisnis yang ramah lingkungan. Perusahaan kelas dunia sangat cerdas dalam mengumpulkan data-data yang akurat terhadap komitmen sebuah perusahaan, termasuk praktik-praktik bisnis yang biasa mereka lakukan di suatu negara. Inilah konsekuensi zaman baru yang terbuka dan transparan.

Direktur Eksekutif IESR (Institute for Essential Services Reform), Fabby Tumiwa, mengatakan Tesla memang sudah punya kebijakan internal untuk menurunkan carbon footprint (jejak karbon) dari produk-produknya. Salah satunya lewat ketentuan green nickel yang mengharuskan Tesla membeli dari produsen yang melakukan praktik pertambangan yang berkelanjutan dan carbon footprint yang rendah

Saat ini, lanjut dia, perusahaan-perusahaan dunia telah mensyaratkan pada rantai pasoknya untuk memperhatikan praktik-praktik keberlanjutan (sustainable), rendah karbon, dan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT). "Artinya, kalau Indonesia ingin masuk dalam rantai pasok global, produsen-produsen Indonesia harus mulai menerapkan standar lingkungan dan sosial yang tinggi, produksi yang rendah karbon, dan memanfaatkan EBT," tegasnya.

Dalam diskusi transisi energi, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Surya Darma, menegaskan bahwa tren transisi energi menjadi net zero emissions pada tahun 2050 merupakan satu keharusan.

Kendati demikian, Surya Darma masih menyayangkan perkembangan pemanfaatan EBT yang relatif stagnan dalam bauran energi nasional. "Ini karena porsi non-EBT (energi kotor) naik sangat drastis, sementara EBT sedikit sehingga baurannya menurun," tegasnya.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Surabaya, Wibisono Hardjopranoto, mengatakan keputusan Tesla memilih BHP Australia sebagai sumber nikel perusahaan harus dijadikan bahan pelajaran bahwa kepedulian lingkungan telah menjadi bagian dari tren bisnis global.

"Kasus Tesla ini harus dijadikan pelajaran keteledoran kita, karena sudah terlalu lama mengeksploitasi sumber daya alam demi keuntungan semata. Apalagi perusahaan-perusahaan global sekarang memilih negara yang lebih ramah lingkungan. Perusahaan-perusahaan yang punya kepedulian seperti ini harus diapresiasi dengan berbagai bentuk stimulus agar investasi tetap terjaga dan tujuan kita tentang emisi karbon yang ramah lingkungan juga tercapai," pungkasnya.

Direktur Centre for Waste Manegment and Bio Enegeri Universitas Janabadra Yogyakarta, Mochamad Syamsiro, mengatakan kegagalan kesepakatan dengan Tesla banyak faktor, tapi yang pasti perusahaan Elon Musk itu pemain energi bersih yang butuh kestabilan politik dan visi jelas dari sebuah negara yang bekerja sama dengannya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Padamkan Kebakaran TPA Jati...
Presiden dan Wapres Tiba di Lokasi Upacara HUT Ke-80 Bhayangkara

Presiden dan Wapres Tiba di Lokasi Upacara HUT Ke-80 Bhayangkara

01 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.