Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ekonomi Biru Dipacu, Batam Dijadikan Sentra Budi Daya Lobster

📅 Rabu, 10 Sep 2025, 16:57 WIB | Oleh: Tim Penulis
Ekonomi Biru Dipacu, Batam Dijadikan Sentra Budi Daya Lobster Doc: Antara.
Ket. Ilustrasi - Lobster kualitas ekspor.

BATAM – Pemanfaatan ekonomi biru menjadi salah satu kunci strategis dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi sumber daya laut yang dimiliki Indonesia.

Dengan lebih dari 70% wilayah berupa perairan, potensi ekonomi biru mencakup perikanan tangkap dan budidaya, energi laut, bioteknologi kelautan, hingga ekowisata bahari.

Namun, potensi besar ini belum sepenuhnya dioptimalkan akibat keterbatasan infrastruktur, lemahnya tata kelola, serta rendahnya investasi berbasis inovasi.

Mengoptimalkan ekonomi biru penting untuk mendorong diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi di luar sektor darat yang kerap mengalami keterbatasan lahan dan eksploitasi berlebihan.

Jika dikelola dengan prinsip berkelanjutan, ekonomi biru tidak hanya meningkatkan kontribusi terhadap PDB, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, memperkuat ketahanan pangan melalui sektor perikanan, serta mendukung transisi energi bersih dari laut.

Dari sisi geopolitik, penguatan ekonomi biru juga berperan penting dalam menjaga kedaulatan maritim. Pemanfaatan laut yang optimal dan terukur akan memperkuat posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia, sekaligus mencegah eksploitasi ilegal oleh pihak asing.

Karena itu, strategi pengembangan ekonomi biru membutuhkan regulasi tegas, insentif investasi, riset teknologi, dan kolaborasi lintas sektor agar potensi laut tidak sekadar menjadi jargon, tetapi benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong perkembangan ekonomi biru yakni pemanfaatan sektor sumber daya laut, dengan panen perdana budidaya lobster di Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Kota Batam, Kepulauan Riau.

Sebaiknya Anda baca juga:

Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono menyebutkan bahwa penelitian dan riset pengembangan lobster telah dilakukan selama hampir dua tahun.

“Sekarang kita sudah berhasil. Keberhasilan ini menjadi langkah awal agar Indonesia bisa memiliki kekuatan di sektor perikanan dan kelautan. Nilai panen perdana ini mencapai sekitar 1,7 ton dengan harga Rp400 ribu per kilogram,” ujar Sakti Wahyu Trenggono pada acara panen lobster perdana di BPBL Batam, Rabu (10/9).

Ia menegaskan Indonesia memiliki potensi besar karena ketersediaan bibit lobster yang melimpah secara alami.

“Pasar global seafood diperkirakan mencapai 414 miliar dolar AS, sementara kontribusi ekspor Indonesia baru sekitar 5 miliar dolar AS. Jadi kami memiliki potensi yang sangat besar di Kepri dan Batam,” kata dia.

Sebagai informasi, lobster yang berhasil dipanen sebanyak 6.000 ekor, terdiri dari tiga macam yakni jenis pasir, bambu dan mutiara.

Panen perdana ini juga dihadiri Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka dan Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Pemerintah Perlu Fokus Perc...

UMKM Didorong Tembus Rantai Global

30 menit yang lalu | Lukman

Nasional
UMKM Didorong Tembus Rantai...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.