Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Padukan Sains dan Teknologi untuk Kemandirian Pangan, Bukan Selalu Buka Lahan Baru

📅 Jumat, 13 Feb 2026, 02:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Padukan Sains dan Teknologi untuk Kemandirian Pangan, Bukan Selalu Buka Lahan Baru Doc: ANTARA /Yudi Manar
Ket. Petani merontokkan padi menggunakan mesin di Kelurahan Martubung, Medan, Sumatera Utara, belum lama ini. Tanpa tekad penuh dan dukungan nyata melalui intensifikasi serta implementasi teknologi agraria dalam pembangunan pangan nasional, Indonesia akan berjalan di tempat atau bahkan menyusut dalam program kemandirian pangan nasional.

Lahan pertanian dan perkebunan yang sudah menghasilkan pangan harus dijaga dan didukung total untuk kelangsungan hidupnya, bukan sebaliknya dibiarkan gagal. Di sisi lain selalu berharap dan mencoba food estate baru berulang kali.

JAKARTA - Pemerintah RI harus mengevaluasi arah pembangunan sektor pertanian nasional jika ingin benar-benar mencapai kemandirian pangan. Perlunya evaluasi itu dengan melihat pendekatan yang dilakukan Tiongkok di mana Pemerintahnya lebih fokus pada penguatan teknologi dan peningkatan produktivitas lahan yang sudah ada.

Anggota Dewan Pengurus Daerah (DPD) Pemuda Tani Indonesia DIY, Pranasik Faihaan, dari Yogyakarta, Kamis (12/2) mengatakan Tiongkok mengembangkan teknologi agraria untuk menaikkan produktivitas sehingga dapat mengurangi kebutuhan lahan pertanian menuju kemandirian pangan.

Sedangkan Indonesia berkali-kali membuka lahan baru melalui program food estate, tetapi lahan pertanian dan perkebunan yang ada tidak dipertahankan untuk produktivitas yang lebih tinggi.

Hal itu yang menyebabkan kebergantungan Indonesia pada impor pangan masih cukup tinggi. Padahal, tidak ada satu pun negara adidaya dunia yang tergantung pada impor pangan di atas 20 persen dari total kebutuhan pangan mereka. Sedangkan Indonesia, berdasarkan data perdagangan tahun 2024-2025, Badan Pusat Statistik (BPS) sekitar 60-70 persen lebih impor Indonesia ditujukan untuk bahan baku/penolong yang mendukung industri dalam negeri.

Dengan melihat kondisi tersebut, maka tanpa tekad penuh dan dukungan nyata melalui intensifikasi serta implementasi teknologi agraria dalam pembangunan pangan nasional, Indonesia akan berjalan di tempat atau bahkan menyusut dalam program kemandirian pangan nasional.

“Pertanian dan perkebunan yang sudah menghasilkan pangan harus dijaga dan didukung total untuk kelangsungan hidupnya dan tidak sebaliknya dibiarkan gagal atau malah dibuat sulit untuk keberlangsungan hidupnya,” ujar Pranasik.

Tiongkok jelas Pranasik mengembangkan teknologi penelitian untuk varietas bioteknologi jagung yang memiliki kadar protein lebih tinggi sehingga dapat mengurangi kebergantungan pada kedelai impor untuk pakan ternak. Tanpa tekad negara untuk mencintai dan mendukung total pertanian dan perkebunan pangan nasional yang sudah ada, sulit mengharapkan pengembangan baru yang belum menghasilkan pangan.

Ia menambahkan, teknologi agraria hanya bisa maju di dalam negeri jika negara secara nyata memberikan jaminan perlindungan hukum dan kebijakan positif terhadap kelangsungan pertanian dan perkebunan pangan nasional, sehingga dapat meningkatkan investasi pada riset dan teknologi yang membutuhkan modal serta waktu sangat besar untuk bisa bersaing secara global.

Jika negara sebut Pranasik mencintai dan mendukung total pertanian dan perkebunan pangan nasional, maka strategi utama dan pertama dari food security bisa tercapai, di mana hal itu merupakan tingkat kepentingan teratas bagi setiap negara adidaya yang berdaulat.

Kalau melihat komposisi demografi, sekitar 43 persen penduduk Indonesia hidup di perdesaan dengan lebih dari 83.000 desa. Dibanding Amerika Serikat (AS) hanya memiliki sekitar 20 persen penduduk di pedesaan namun menjadi salah satu eksportir pangan terbesar dunia. Tiongkok, dengan sekitar 34 persen penduduk desa, hanya membutuhkan 23 persen impor pangan.

“Jaadi jangan yang sudah ada tidak dipelihara atau malah dimatikan, sedangkan selalu berharap dan mencoba food estate baru berulang-ulang kali,” kata Pranasik.

Sentuhan Teknologi

Pada kesempatan terpisah, Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar) Bali, I Nengah Muliarta sependapat dengan pandangan bahwa kedaulatan sebuah bangsa mustahil ditegakkan di atas fondasi ketergantungan impor.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Ekonomi
Danantara Borong Saham Burs...
Ekonomi
BI Tangkap Sinyal Ekspansi ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Jangan Lupa Catat Tanggalnya! CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan, Jaksel Adakan di Jalan Iskandar Muda

Jangan Lupa Catat Tanggalnya! CFD Sudirman-Thamrin Ditiadakan, Jaksel Adakan di Jalan Iskandar Muda

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.