Cuaca Buruk Papua Pegunungan Tuntut Warga Bersiaga
📅 Kamis, 06 Nov 2025, 14:05 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
JAYAWIJAYA – Pada bulan ini memang sejumlah daerah bakal dilanda cuaca buruk, termasuk Papua Pegunungan. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika atau BMKG melalui Stasiun Meteorologi Kelas III Wamena, Kabupaten Jayawijaya, mengimbau warga di delapan kabupaten Papua Pegunungan untuk mewaspadai cuaca ekstrem.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Wamena Laura SM Runggeari di Wamena, Kamis, mengatakan dari prakiraan cuaca saat ini wilayah Papua Pegunungan dan sekitarnya baru memasuki fase peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, sehingga warga harus meningkatkan kewaspadaan.
“Kami dapat menyampaikan saat ini Kabupaten Jayawijaya maupun tujuh kabupaten lain di Papua Pegunungan baru memasuki musim peralihan dari panas ke hujan, dan puncaknya (musim hujan) dari hasil prakiraan cuaca akan berlangsung pada bulan Januari 2026. Warga kami imbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan, sehingga tidak terjadi korban jiwa,” katanya.
Menurut dia, wilayah Papua Pegunungan masuk dalam zona musim, baik panas maupun hujan, yang dapat berlangsung dua hingga tiga bulan ke depan. “Papua Pegunungan masuk zona musim, sehingga dari hasil pengamatan cuaca puncak musim hujannya akan terjadi pada Desember 2025 hingga Januari-Februari 2026 atau tiga bulan ke depan dengan intensitas sedang hingga lebat,” ujarnya.
Dia menjelaskan beberapa tahun terakhir ini puncak hujan terjadi pada Februari dan Maret, sehingga pada bulan April 2025 terjadi bencana alam seperti banjir dan tanah longsor di Kabupaten Jayawijaya. “Kami juga telah membuat laporan analisis prakiraan cuaca selama periode satu tahun sejak April hingga November 2025, wilayah Papua Pegunungan banyak mengalami kejadian bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia menambahkan bencana hidrometeorologi di Papua Pegunungan menyebabkan banjir dan tanah longsor di Distrik Dal dan Mebarok Kabupaten Nduga. “Faktor dominan yang menyebabkan terjadinya fenomena ini adalah gelombang atmosfer dari skala regional. Akibat kelembaban udara yang tinggi menghasilkan uap air yang cukup banyak, sehingga membentuk proses terjadinya awan hujan dan menyebabkan terjadinya hujan deras,” ujarnya.
Maluku Utara
Sebelumnya, masyarakat Maluku Utara diminta mencermati kondisi cuaca untuk sepekan ke depan. Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah Ternate mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah (pemda) di Maluku Utara untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem pada 6 hingga 12 November 2025.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah, Sakimin, dalam keterangannya di Termate, Kamis, mengatakan hasil pemantauan dinamika atmosfer menunjukkan adanya sirkulasi di sekitar wilayah utara Papua yang berdampak pada pola angin membentuk belokan dan perlambatan massa udara di wilayah Maluku Utara. Kondisi tersebut dapat memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan di berbagai daerah.
“Secara umum, cuaca di Maluku Utara selama periode tersebut diprakirakan cerah berawan dengan potensi hujan intensitas ringan hingga lebat secara fluktuatif yang dapat terjadi pada pagi, siang, malam, hingga dini hari,” ujar Sakimin. BMKG juga mengingatkan potensi dampak turunan dari fenomena hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, berkurangnya jarak pandang, serta angin kencang, di sejumlah wilayah.
Ia merinci kondisi cuaca pada 6–7 November 2025 berpotensi hujan intensitas sedang hingga lebat di Kabupaten Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Selatan, Pulau Taliabu, dan Kepulauan Sula. Pada 8–9 November 2025 ada potensi hujan sedang hingga lebat di Pulau Morotai, Halmahera Utara, Halmahera Barat, Kota Tidore Kepulauan, Kota Ternate, serta sejumlah wilayah di Halmahera Timur, Tengah, Selatan, Pulau Taliabu, dan Kepulauan Sula.
Sedangkan 10–12 November 2025 cuaca serupa masih berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Maluku Utara, termasuk Morotai, Halmahera Utara, Halmahera Barat, Tidore, Ternate, Halmahera Timur, Tengah, Selatan, Pulau Taliabu, dan Kepulauan Sula. Untuk itu, kata dia, BMKG meminta pemda dan masyarakat memastikan kesiapan infrastruktur dan sistem tata kelola sumber daya air dalam menghadapi potensi peningkatan curah hujan serta angin kencang.
BMKG juga mengimbau BPBD, Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara, dan Direktorat Lalu Lintas Polda Malut, agar meningkatkan kewaspadaan serta mengarahkan masyarakat menjauhi zona rawan longsor, banjir, dan banjir bandang, selama periode cuaca ekstrem. “Masyarakat diharapkan mengenali potensi bencana di lingkungan masing-masing dan mulai melakukan langkah mitigasi sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan, dan menata lingkungan,” tutur Sakimin.
Ia menambahkan seluruh pihak diminta untuk meningkatkan koordinasi dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, serta selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah Ternate.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!