Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

BPBD Sumbar: Operasi modifikasi cuaca Kurangi Titik Api Karhutla pada Akhir Juli 2025

📅 Sabtu, 02 Agu 2025, 12:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
BPBD Sumbar:  Operasi modifikasi cuaca Kurangi Titik Api Karhutla pada Akhir Juli 2025 Doc: Antara Foto
Ket. Petugas menyiapkan Natrium klorida (NaCl) untuk pelaksanaan operasi modifikasi cuaca di Sumatera Barat

Juru bicara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat (Sumbar) Ilham Wahab mengatakan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) pada 25-31 Juli 2025 di daerah itu efektif dalam mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Secara umum pelaksanaan operasi modifikasi cuaca cukup efektif dan berhasil dalam menangani karhutla, terutama di titik-titik yang kita targetkan," kata Ilham Wahab di Kota Padang, Sabtu.

Ilham menjelaskan operasi modifikasi cuaca tersebut menargetkan rekayasa hujan buatan, terutama di sekitar langit Kabupaten Solok dan Kabupaten Limapuluh Kota. Lokasi ini dipilih, karena dua kabupaten tersebut berstatus tanggap darurat karhutla pada saat operasi dilaksanakan.

Pada awalnya, operasi modifikasi cuaca hanya dilaksanakan selama lima hari. Namun, BPBD bersama BMKG setempat memutuskan untuk memperpanjang menjadi tujuh hari, karena masih adanya titik-titik api serta potensi kebakaran.

Selain keadaan yang semakin kondusif, terutama di Kabupaten Solok dan Kabupaten Limapuluh Kota, penghentian operasi modifikasi cuaca juga dilatarbelakangi kondisi karhutla di Pulau Kalimantan yang terus meluas.

"Jadi, meluasnya dampak karhutla di Kalimantan juga menjadi pertimbangan penghentian operasi modifikasi cuaca di Sumbar, sehingga operasi ini bisa langsung dialihkan ke Kalimantan," kata Ilham.

Meskipun tergolong berhasil menangani karhutla, terutama di Kabupaten Solok dan Kabupaten Limapuluh Kota, BPBD bersama Dinas Kehutanan dan pemangku kepentingan lainnya masih bersiaga mencegah kebakaran.

Apalagi, pada Jumat (1/8) masih terjadi kebakaran lahan di Kecamatan Rao Selatan, Kabupaten Pasaman yang menghanguskan 100 hektare (ha) kawasan area penggunaan lain (APL). Kebakaran ini diduga dampak kemarau panjang yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir.

Terpisah, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Minangkabau Desindra Deddy Kurniawan mengatakan penebaran natrium klorida (NaCl) di langit Ranah Minang ditujukan untuk merekayasa hujan buatan.

Berdasarkan catatan BMKG, beberapa wilayah di Sumbar sudah masuk dalam kategori kekeringan yang panjang. Bahkan, kondisi itu mendekati ekstrem, sebab sejumlah wilayah tercatat mengalami hari tanpa hujan rentang 30 hingga 60 hari seperti yang terjadi di Kabupaten Solok.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.00...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.