Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

BMKG: Modifikasi Cuaca untuk Mitigasi Bencana dan Perlindungan Publik

📅 Rabu, 28 Jan 2026, 15:49 WIB | Oleh:
BMKG: Modifikasi Cuaca untuk Mitigasi Bencana dan Perlindungan Publik Doc: ANTARA/HO-BPBD DKI
Ket. Petugas BPBD DKI saat memasukkan bahan semai berupa NaCl untuk operasi modifikasi cuaca di Jakarta, Jumat (16/1).

JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan di Indonesia merupakan upaya mitigasi bencana yang terukur, berbasis sains, dan ditujukan untuk perlindungan masyarakat di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa OMC dijalankan sebagai respons paralel atas menurunnya daya dukung lingkungan dan meningkatnya risiko cuaca ekstrem, terutama hujan lebat yang berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi.

BMKG dalam hal ini sekaligus menanggapi beredarnya narasi di media sosial yang menyebut OMC berisiko menjadi bom waktu, karena dianggap dapat membuat cuaca tidak stabil, memicu fenomena kolam dingin (cold pool), memindahkan hujan ke wilayah lain, hingga menimbulkan rasa aman palsu bagi masyarakat.

Tri menjelaskan bahwa cold pool merupakan fenomena meteorologi yang sepenuhnya alami dan selalu terbentuk setiap kali terjadi hujan, baik secara alami maupun melalui OMC. Fenomena ini terjadi akibat penguapan air hujan di bawah awan badai yang mendinginkan udara dan menciptakan massa udara padat yang turun ke permukaan.

Menurut dia, mengaitkan cold pool sebagai dampak berbahaya dari OMC merupakan kekeliruan secara ilmiah. Hal itu, karena OMC dengan teknik penyemaian awan tidak menumbuhkan awan baru, melainkan hanya memicu proses alami pada awan yang sudah terbentuk dan jenuh secara alami.

BMKG menegaskan tujuan OMC murni untuk mitigasi bencana, yakni menambah atau mengurangi curah hujan sesuai kebutuhan pengendalian risiko, bukan memicu ketidakstabilan cuaca.

"Secara skala energi, teknologi manusia saat ini juga tidak mampu menciptakan massa udara dingin dalam skala besar seperti yang dikhawatirkan," kata Seto.

Adapun terkait anggapan OMC memindahkan hujan ke wilayah lain, ia menjelaskan bahwa ada dua metode yang digunakan, yakni jumping process method dengan menyemai awan di laut agar hujan jatuh sebelum mencapai daratan, serta competition method untuk meluruhkan intensitas awan yang tumbuh di daratan agar tidak berkembang menjadi awan hujan ekstrem.

Tri menambahkan terjadinya banjir sangat dipengaruhi oleh kemampuan lingkungan dalam merespons curah hujan. Dalam hal ini dicontohkan hilangnya sekitar 800 situ/danau resapan di wilayah Jabodetabek sejak 1930-an menjadi salah satu faktor utama berkurangnya daerah resapan air.

BMKG menekankan bahwa penataan lingkungan tetap menjadi langkah utama dalam penanganan banjir, namun harus berjalan paralel dengan upaya pengendalian curah hujan seperti OMC.

Menurut Seto, ke depan, penguatan kapasitas modifikasi cuaca dan perbaikan tata lingkungan perlu terus dilakukan untuk menghadapi tantangan perubahan iklim yang kian nyata.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Berpotensi Melemah Lanjutan...
Olahraga
Iran Membidik Langkah Berse...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.