Bisnis Antariksa ‘Booming’, Akankah Wisata Luar Angkasa Semakin Murah?
📅 Jumat, 13 Sep 2024, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Ignatiev/E+ via Getty Images
Chris Impey, University of Arizona
Ruang angkasa bukanlah tempat yang ramah bagi manusia. Tanpa perlindungan yang cukup, kita tidak akan bertahan lebih dari dua menit di sana. Untuk mencapainya pun, kita bergantung pada kekuatan ledakan kimia yang tak mudah dikendalikan.
Sejak 1961, hampir 700 orang telah menjelajahi ruang angkasa. Perusahaan swasta seperti SpaceX dan Blue Origin berharap bisa meningkatkan jumlah tersebut hingga ribuan orang. Bahkan, SpaceX sudah mulai menerima pesanan untuk penerbangan ke orbit Bumi.
Sebagai seorang astronom yang banyak menulis tentang eksplorasi ruang angkasa, termasuk buku tentang masa depan umat manusia di luar Bumi, saya sering merenungkan baik buruk misi penjelajahan angkasa ini.
Seiring berkembangnya industri ruang angkasa komersial, kecelakaan tentu bisa saja terjadi. Begitu pula dengan kemungkinan terburuk hingga menelan korban jiwa. Misi Polaris Dawn, yang baru saja diluncurkan pada 10 September 2024 lalu menjadi salah satu misi yang berisiko tinggi. Mengapa? karena misi ini hanya melibatkan astronaut sipil, tanpa astronaut profesional. Untuk itu, saya rasa, saat ini adalah waktu yang tepat untuk membahas dua sisi ekspedisi luar angkasa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bahaya perjalanan ruang angkasa
Sebagian besar orang Amerika Serikat mungkin masih mengingat betapa tragisnya tragedi yang menelan 14 nyawa astronaut yang meluncur dari negara tersebut. Dua dari lima pesawat ulang-alik yang diluncurkan hancur. Challenger meledak di udara tak lama setelah peluncuran pada 1986. Kejadian nahas serupa juga menimpa Columbia saat pesawat ruang angkasa itu kembali ke Bumi pada Februari 2003.
Secara keseluruhan, ada 30 astronaut dan kosmonaut yang telah gugur selama pelatihan atau misi luar angkasa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, ada puluhan peristiwa kecelakaan yang nyaris terjadi. Peristiwa terbaru, dua astronaut terpaksa harus memperpanjang waktu tinggal mereka di Stasiun Luar Angkasa Internasional selama enam bulan, karena NASA menyatakan kendaraan Boeing Starliner yang mereka tumpangi tidak aman untuk perjalanan pulang. Starliner tercatat memiliki banyak masalah selama pengembangannya, termasuk pita yang mudah terbakar, katup yang macet, dan sistem parasut yang tidak memadai. Malfungsi pada pesawat menyebabkan NASA enggan mengambil risiko membawa pulang kembali astronaut mereka dengan kendaraan milik Boeing itu.
Tak hanya di udara, bahkan di darat sekalipun risiko kecelakaan terhadap astronaut tetap ada. Pada 1967, tiga astronaut Apollo 1 tewas dalam kebakaran di landasan peluncuran, sementara sekitar 120 orang meninggal dalam ledakan di landasan peluncuran roket tak berawak di Rusia pada 1960. Di belahan bumi lain, ratusan orang tewas pada 1996 ketika sebuah roket Cina melenceng dan menubruk desa terdekat.
Tingkat kematian perjalanan luar angkasa tercatat sekitar 3%-angka yang mungkin terdengar kecil, tetapi sebetulnya lebih tinggi dibanding risiko kematian akibat olahraga ekstrem seperti terjun payung. Satu-satunya kegiatan yang mendekati bahaya risiko perjalanan ruang angkasa ini mungkin hanyalah panjat tebing bebas atau pendakian di Himalaya pada ketinggian lebih dari 6.000 meter
Warga sipil di luar angkasa
Di samping segala risiko dan bahaya penjelajahan ruang angkasa, dekade 2020-an menjadi era baru bagi astronaut sipil. Setelah kematian guru Christa McAuliffe dalam tragedi Challenger, NASA berhenti mengirim warga sipil ke luar angkasa. Namun, bagi perusahaan komersial, ini justru menjadi peluang mengembangkan model bisnis mereka.
Misi Inspiration 4 pada 2021 membawa kru sipil pertama yang mencapai orbit menggunakan pesawat Dragon milik SpaceX. Sejak 2020, terhitung sudah ada 69 astronaut sipil yang telah pergi ke luar angkasa, meski hanya 46 di antaranya yang melampaui garis Kármán-batas resmi luar angkasa.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!