Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Benny Susetyo: Perlu Evaluasi Efektif dan Kerja Kolaboratif dalam Penerapan Buku Teks Utama Pendidikan Pancasila

📅 Rabu, 10 Jul 2024, 01:07 WIB | Oleh:
Benny Susetyo: Perlu Evaluasi Efektif dan Kerja Kolaboratif dalam Penerapan Buku Teks Utama Pendidikan Pancasila Doc: istimewa
Ket. Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP, Dr. Antonius Benny Susetyo.

JAKARTA - Direktorat Pengkajian Implementasi Pembinaan Ideologi Pancasila dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengadakan Diskusi Kelompok Terarah (FGD) bertajuk Kajian Identifikasi Nilai Ideologi Pancasila dalam Kebijakan Sistem Pendidikan Nasional, Khususnya Terkait Penggunaan Buku Teks Pendidikan Pancasila pada Jenjang Pendidikan SD hingga SMA.

Acara yang diadakan di Jakarta, Senin (8/7) ini dihadiri narasumber, antara lain Dr. Antonius Benny Susetyo, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP, Doni Koesoema A.M.Ed., seorang peneliti dan konsultan pendidikan, dan Idris Hemay, M.Si, Direktur Center for Study of Religion and Culture (CSRC), dengan moderator Permonojati Yudo Prawiro, M.S.E., Ak., C.A.

Kebutuhan untuk mengevaluasi ulang dan mengintegrasikan kembali nilai-nilai Pancasila ke dalam sistem pendidikan nasional muncul dari persepsi bahwa sistem pendidikan saat ini telah menyimpang dari prinsip-prinsip dasar yang dirumuskan oleh tokoh-tokoh seperti Ki Hajar Dewantara dan Sukarno.

Menurut siaran persnya, FGD ini bertujuan mengatasi reduksi nilai-nilai Pancasila menjadi elemen mekanistik dalam kurikulum pendidikan dan mengusulkan cara untuk mengembalikan peran esensialnya dalam membentuk pendidikan yang holistik dan berbasis nilai.

Dr. Antonius Benny Susetyo menekankan perlunya menyelaraskan kembali sistem pendidikan nasional dengan tujuan yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Dia merujuk pada prinsip-prinsip yang diutarakan oleh Ki Hajar Dewantara, yang menekankan pada pengolahan roso (jiwa/perasaan) dalam pendidikan.

Dia mengkritik sistem saat ini karena pendekatan mekanistiknya, yang dianggap telah jauh menyimpang dari cita-cita bangsa, menjadikan pendidikan sebagai alat produksi belaka.

Benny menyoroti perbedaan antara visi pendidikan Sukarno, yang menekankan pada pengembangan potensi universal berdasarkan lingkungan, dan praktik saat ini yang dianggapnya sebagai penyalahgunaan nilai-nilai Pancasila.

Dia mencontohkan pendidikan di Papua yang seharusnya memanfaatkan potensi maritimnya untuk memperkuat perannya dalam wilayah NKRI. Benny mengkritik penggunaan nilai-nilai Pancasila saat ini yang hanya dijadikan sebagai alat produksi, menghilangkan esensinya.

Dia menunjukkan bahwa kajian implementasi Buku Teks Utama Pendidikan Pancasila berfokus pada hilangnya nilai-nilai inti Pancasila dalam sistem pendidikan, yang telah jauh menyimpang dari konsep-konsep yang dirumuskan oleh Sukarno dan Hatta.

Dia juga memperingatkan "Profil Pelajar Pancasila" adalah proyek hasil reproduksi sistem kapital yang dapat menimbulkan kesalahan konsep esensi nilai Pancasila.

Benny Susetyo menegaskan kembali pentingnya menyelaraskan pendidikan dengan landasan filosofis yang ditetapkan oleh para pendiri Indonesia. Dia menekankan esensi Pancasila terletak pada kemampuannya membentuk individu yang tidak hanya berpengetahuan, tetapi juga berbelas kasih, adil, dan berdedikasi untuk kebaikan bersama.

Selanjutnya Doni Koesoema menekankan pentingnya menginternalisasi nilai-nilai Pancasila melalui pemahaman ideologi yang mendalam, yang diperlihatkan melalui sikap dan perilaku, bukan sekadar hafalan. Dia mencatat buku teks utama Pendidikan Pancasila belum memberikan contoh atau penjelasan yang konsisten tentang bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Doni mendorong metode pengajaran yang kreatif untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila secara mendalam pada siswa. Dia menyerukan agar para guru diberikan pelatihan dalam mengajar buku teks utama Pendidikan Pancasila dengan cara yang membuat konten ideologis lebih relevan dan dapat diterapkan oleh siswa.

Idris Hemay memberikan konteks untuk fokus kajian ini pada integrasi nilai ideologi Pancasila dalam kebijakan sistem pendidikan nasional. Idris mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis untuk membimbing kajian, antara lain bagaimana nilai ideologi Pancasila diintegrasikan dalam kebijakan sistem pendidikan nasional?

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
SPMB 2026 Bengkulu Tanpa Ti...
Megapolitan
Pemutihan Pajak Kendaraan B...
Megapolitan
30 Rumah di Tanah Tinggi Ja...
Megapolitan
Dua WNA Ditemukan Meninggal...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.