Anak Cepat Sakit di Musim Hujan? Ini Penjelasan Dokter Soal Turunnya Imunitas
📅 Rabu, 10 Des 2025, 22:34 WIB | Oleh: Alfred
Doc: ANTARA/Iggoy el Fitra
JAKARTA - Cuaca buruk yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir dinilai dapat menurunkan daya tahan tubuh anak dan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Dokter spesialis anak Darmawan Budi Setyanto menyebut lingkungan yang dingin dan lembap, terutama di daerah banjir, membuat anak lebih mudah terpapar virus penyebab gangguan pernapasan.
"Jadi, semua organ tubuh kita punya mekanisme pertahanan. Saluran cerna, kulit, saluran nafas punya mekanisme. Pada keadaan cuaca yang tidak bagus, hujan, dingin, apalagi di daerah yang terkena bencana banjir misalnya, nah itu lebih-lebih lagi, suasana lingkungan seperti itu akan sangat menurunkan kemampuan, daya tahan tubuh, sehingga lebih mudah lagi terjadi ISPA," kata dr. Darmawan Budi Setyanto Sp.A (K) ketika dihubungi ANTARA pada Rabu.
Dokter spesialis anak konsultan respirologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menyampaikan bahwa lingkungan yang dingin, lembab, dan basah semasa musim hujan memberikan tambahan beban pada tubuh untuk beradaptasi.
Kondisi yang demikian bisa menyebabkan penurunan imunitas, meningkatkan kerentanan terhadap infeksi kuman dan virus penyebab penyakit pernafasan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selesma, penyakit yang terjadi akibat infeksi virus pada saluran pernafasan, dapat menimbulkan gejala berupa batuk, pilek, dan demam.
Gejala-gejala tersebut disebabkan oleh penumpukan lendir di hidung dan tenggorokan yang terjadi saat tubuh "berperang" melawan virus.
Gejala selesma ringan biasanya akan membaik dengan sendirinya dalam waktu dua sampai tiga hari, setelah tubuh yang berhasil mengeliminasi virus.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, kondisinya bisa membahayakan kalau virus sampai masuk ke paru-paru dan menyebabkan pneumonia.
"Pada sebagian kecil kasus ISPA, selain terkena salurannya, kemudian kena ke parunya. Itu yang akan menyebabkan sesak napas, napas cepat dan napas sesak," kata dr. Darmawan.
"Itu kejadiannya klasik ya biasanya 3-4 hari sebelumnya demam, batuk pilek. Belum sesak. Nanti hari ke-4 atau ke-5 kemudian jadi sesak. Nah pada hari ke-4 itu terjadi pneumonia," ia menjelaskan.
Dia menambahkan, proporsi kasus ISPA yang dampaknya sampai ke paru-paru jauh lebih kecil dibandingkan kasus ISPA di saluran nafas seperti rongga hidung dan tenggorokan.
Dokter Darmawan menyampaikan pentingnya penerapan pola hidup bersih dan sehat, termasuk memakai masker, mencuci tangan, dan mengonsumsi makanan bergizi, dalam upaya pencegahan ISPA pada anak.
Menurut dia, pemenuhan kebutuhan nutrisi dengan makanan bergizi seimbang penting untuk menjaga ketahanan tubuh anak terhadap infeksi virus dan kuman penyebab penyakit.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!