Treking Cibaliung: Dari Tanjakan Kering ke Gemericik Air
Sabtu, 07 Nov 2026, 13:45 WIB | Oleh: SujarJalur di kiri-kanan bukan hutan seragam. Ia seperti lorong botani yang berganti wajah setiap beberapa puluh meter. Kami melewati durian, alpukat, nangka, bambu, pisang, semak dan tanaman merambat.
Ada durian yang oleh orang setempat disebut “Duren Salak.” Saya sempat penasaran. Mengapa salak? Kata mereka bukan karena rasanya seperti salak, melainkan bijinya kecil-kecil seperti biji salak.
Egi juga sesekali berubah dari pemandu trek menjadi guru botani dadakan. Ia menunjukkan belimbing buluh atau belimbing wuluh, daun sintrong yang biasa dijadikan lalapan, juga buah yang ia sebut berry.
Kami pun melewati lanskap kopi. Ini bukan dekorasi wisata semata. Kajian Kementerian Pertanian memang mencatat Karang Tengah sebagai wilayah budidaya kopi robusta, dan Babakan Madang mempunyai areal perkebunan robusta yang dikelola masyarakat. Plang di situ memvalidasinya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketika hutan menurunkan volumenya
Makin jauh berjalan, suara kendaraan lenyap.
Ada satu bagian perjalanan yang sulit ditangkap kamera. Hutan seolah menurunkan volumenya sendiri. Yang terdengar hanyalah suara air terjun entah dari arah mana, desir angin sepoi-sepoi melewati dedaunan, gesekan sepatu dengan tanah, dan napas kita sendiri.
Aneh rasanya. Kaki sedang bekerja keras, tetapi kepala justru terasa ringan.
Tidak ada klakson. Tidak ada notifikasi. Tidak ada percakapan yang harus segera dijawab.
Hanya langkah. Angin. Air. Dan semacam kelapangan jiwa di dada.
Penulis alam Inggris Robert Macfarlane pernah menggambarkan betapa tua hubungan antara berjalan dan bercerita. Baginya, “every path tells”—setiap jalan setapak menyimpan cerita, menguak kisah-kisah.. Berjalan juga membuat manusia mengenali suatu lanskap dengan cara yang tidak mungkin dilakukan ketika kita sekadar melintas cepat.
Saya merasakannya di Cibaliung. Kita bukan cuma melihat alam. Kita seolah diberi waktu untuk membersamainya.
Treking dan jalan kehidupan
Semua jalur treking dan hiking, bagi saya, pada akhirnya memiliki bahasa yang hampir sama. Kadang landai. Kadang tanjakan curam. Lalu turun, berbelok, menanjak lagi.
Ada medan yang membuat langkah ringan. Ada bagian yang memaksa paha dan betis bekerja lebih keras. Ada rasa letih tentu saja, tapi tidak terlalu, kemudian berganti lega. Ada kesulitan, lalu beberapa menit kemudian kita berdiri di depan pemandangan yang membuat rasa lelah seperti terbayar tunai.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!