Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Treking Cibaliung: Dari Tanjakan Kering ke Gemericik Air

7 Sabtu, 07 Nov 2026, 13:45 WIB | Oleh:

Bukankah perjalanan kehidupan juga begitu?

Kenikmatan dan tantangan, sedih dan gembira, rasa berat dan rasa ringan datang silih berganti. Dinamis. Barangkali justru itu yang membuat perjalanan nikmat: tidak monoton.

Saya merasakan keragaman itu dalam perjalanan sebelumnya ke Papandayan, Prau, Gunung Bisma, Puncak Kawah Ijen, Bromo, Gunung Gede; juga Daolong, Kuta, Paniisan, Silala dan jalur-jalur Babakan Madang lainnya.

Tak ada dua gunung yang benar-benar sama. Beda alam, beda medan, beda udara, beda kesulitan, beda hadiah. Beda cerita dan kisah.

Bahkan dalam satu treking saja semua karakter itu bisa berubah berkali-kali. Apalagi jika tempatnya berbeda. Kita tahu akan berjalan, tetapi kita tak pernah sepenuhnya tahu cerita apa yang menunggu di balik tikungan berikutnya.

Dari debu menuju air

Menjelang pertengahan perjalanan, suara air semakin jelas.

Sekitar pukul 09.38, dunia seperti berganti warna. Kolam-kolam alami muncul di antara bebatuan dan pepohonan. Air terlihat hijau jernih.

Kemudian batu-batu besar memecah arus. Jembatan bambu menghubungkan tepian. Nama-namanya sendiri seperti sebuah peta kecil berbahasa Sunda: leuwi, lubuk atau bagian sungai yang lebih dalam; curug, air terjun.

Benjol, Barong, Ceupet, Lieuk, Lengsa, Cibaliung.

Satu nama membawa karakter airnya sendiri. Biasanya saya menceburkan diri kalau melihat leuwi atau lubuk kolam di bawah curug (air terjun). Tapi entah kenapa kali ini saya enggan, padahal saya mengenakan celana baselayer, “trekking pants”. Barangkali karena orang terlalu ramai, maklum weekend, jadi ada rasa malas dan ngga nyaman.

Riset tentang treking di kawasan Leuwi Hejo memang menggambarkan Cibaliung bukan sebagai sebuah curug yang berdiri sendiri. Ia bagian dari perjalanan lintas alam melalui persawahan atau kebun, hutan, perbukitan, sungai dan rangkaian leuwi serta air terjun.

Sekitar pukul 10 lewat, suasana berubah lagi.

Keheningan perjalanan berganti keriuhan di sekitar air. Orang berenang, berendam, duduk di bebatuan, menyeberangi jembatan bambu, berfoto. Alam tetap indah, tetapi kini manusia ikut menjadi bagian dari lanskapnya.

Ada warung sederhana. Ada guide yang lalu-lalang. Ada penjaga, tiket, parkir, makanan, angkutan trekker. Sekitar 11.15, kami berhenti menikmati kelapa muda.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kabar Baik! Pemerintah Buka CPNS November 2026, 139 Ribu Formasi Guru Menanti

Kabar Baik! Pemerintah Buka CPNS November 2026, 139 Ribu Formasi Guru Menanti

06 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.