Treking Cibaliung: Dari Tanjakan Kering ke Gemericik Air
Sabtu, 07 Nov 2026, 13:45 WIB | Oleh: SujarInilah sisi lain Cibaliung yang menarik: alam tidak hanya memberi ruang rekreasi, tetapi juga penghidupan bagi warga. Desa Karang Tengah memiliki sekitar sepuluh potensi destinasi ekowisata. Saya baca penelitian IPB mengingatkan masih adanya pekerjaan rumah dalam aksesibilitas, fasilitas serta pengelolaan wisata secara terpadu di sana.
Pengalaman pagi itu membuat persoalan tersebut mudah dipahami. Pengunjung terus datang, sedangkan sebagian jalan menuju kawasan tetap kecil dan beberapa bagiannya rusak.
Pulang dengan langkah yang berbeda
Cibaliung belum selesai memberi tantangan setelah kami menikmati air. Menjelang siang, setapak kembali menyempit. Tanjakan muncul lagi. Rombongan harus berjalan beriringan. Debu kemarau kembali menempel di sepatu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sesekali pepohonan membuka celah. Lembah dan bukit muncul di kejauhan seperti jendela besar. Kabut pagi sudah hilang. Matahari lebih tinggi. Warna hijau menjadi tegas.
Pukul 13.17, kami akhirnya kembali ke basecamp. Sejak doa bersama Egi, berarti kami berada di jalur sekitar empat jam 48 menit. Smartwatch istri mencatat sekitar 10.000 langkah.
Tetapi angka langkah selalu punya keterbatasan. Bagi warga urban, satu langkah di lantai mal tidak sama dengan satu langkah menaiki tanah berdebu. Satu langkah di trotoar tak sama dengan satu langkah mencari keseimbangan di batu sungai atau setapak lereng. Rasakan detil itu.
Setelah trekking, kami belum langsung pulang. Perjalanan ditutup dengan berendam di Wisata Air Panas Tirta Arsanta, lalu late lunch di Kampung Parung Jambu. Dari dinginnya air Cibaliung menuju hangatnya air panas. Kaki yang sejak pagi bekerja akhirnya mendapat hadiah. Hilang penat dan pegal.
Saya ingat waktu dua tahun lalu ke pegunungan Dieng, ke Gunung Prau dan Gunung Bisma tiap hari kami tek-tokan subuh naik gunung, sore pulang dan mampir berendam hot spring, air panas yang meluruhkan seluruh kepenatan dan pegel-pegel. Selama tiga hari berturut-turut begitu, enjoy sekali.
Barangkali itulah inti traveling dengan berjalan kaki. Kita memang bergerak menuju sebuah tempat, tetapi tubuh dipaksa hadir sepanjang perjalanan. Kaki membaca kemiringan tanah, telinga membaca air dan angin, kulit membaca panas dan sejuk. Perlahan pikiran melepaskan urusan yang tertinggal di kota.
Saya pulang dengan kesan bahwa Cibaliung bukan terutama soal seberapa tinggi kita mendaki atau seberapa jauh kita berjalan. Ia adalah perjalanan tentang perubahan: aspal menjadi tanah, keramaian berubah hening, debu bertemu air, tanjakan berganti turunan, napas berat berujung dada yang lapang.
Di kota kita sering berharap jalan kehidupan lurus-lurus saja.
Di gunung dan hutan, kita menerima begitu saja bahwa jalan memang mesti berbelok, naik, turun, berbatu, berdebu, kadang ramai, kemudian sepi lagi. Anehnya, bisa juga bukan aneh ya, setelah menerima semuanya, perjalanan malah terasa lebih ringan. Entengan.
Dan Cibaliung kembali mengingatkan saya: tujuan memang penting. Tetapi sering kali yang paling kita kenang bukanlah curug di ujung perjalanan—melainkan seluruh langkah yang membawa kita sampai ke sana. Yaa, kaaan.
Oleh Dr Ramadhan Pohan *)
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!