Teguh Subroto, Sosok Jaksa Humanis di Balik Pengabdian: Dari Ruang Penegakan Hukum, Perjuangan Atlet Disabilitas hingga Pemberdayaan Masyarakat
Minggu, 01 Nov 2026, 18:40 WIB | Oleh: Henri pelupessy“Kalau jaksa hanya menekankan kewenangan semata, yang kita dapatkan hanya keadilan yang semu dan tidak terasa di masyarakat,” ujar Reda.
Menurutnya, penegakan hukum perlu berjalan seiring dengan pendekatan yang mampu menyentuh kehidupan masyarakat.
“Kalau penegak hukum dan metodenya humanis, keadilan akan terasa di hati masyarakat,” lanjutnya.
Demikian juga, pada Jumat, 30 Oktober 2026, bersama jajaran Aslinmas Jawa Tengah dan Kepala Kejaksaan Negeri Kota Semarang Agus Rujito, ia hadir dalam kegiatan bakti sosial di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren Darul Hasanah Al Mustofa, Kota Semarang.
Bantuan berupa beras dan berbagai kebutuhan pangan disalurkan untuk membantu memenuhi kebutuhan para santri dan anak-anak yang tinggal di lingkungan tersebut.
Kegiatan itu mungkin terlihat sederhana dibandingkan besarnya tugas seorang Kajati. Namun, kehadiran langsung di tengah masyarakat memiliki makna tersendiri.
Bagi anak-anak panti asuhan dan para santri, perhatian tidak selalu harus diwujudkan melalui program besar. Kunjungan, sapaan, bantuan kebutuhan sehari-hari, dan kepedulian dapat menjadi bentuk dukungan yang berarti.
Perhatian terhadap pesantren juga mempunyai dimensi yang lebih luas. Pesantren merupakan bagian penting dalam membangun karakter, pendidikan, moralitas, dan kehidupan sosial masyarakat.
Karena itu, menjalin komunikasi dan kepedulian dengan lingkungan pesantren menjadi salah satu bentuk upaya memperkuat hubungan antara institusi negara dan masyarakat.
Di tengah kesibukan menjalankan tugas penegakan hukum, ruang pengabdian sosial seperti ini memperlihatkan bahwa seorang pejabat publik tetap memiliki tanggung jawab moral untuk hadir dan peka terhadap lingkungan sekitarnya.
Banyak Bekerja daripada Mencari Sorotan
Ada karakter menarik yang dapat dibaca dari berbagai aktivitas Teguh Subroto: pengabdian tidak selalu harus ditampilkan melalui banyak pernyataan.
Dalam sejumlah ruang tugas, mulai dari pengawasan internal Kejaksaan, kepemimpinan institusi, dukungan kepada atlet paralimpik, hingga penguatan Aslinmas, yang dibutuhkan adalah kerja, koordinasi, konsistensi, dan kemampuan membangun kepercayaan.
Karakter pemimpin yang bekerja di balik layar bukan berarti menghindari publik. Sebaliknya, ia memahami bahwa keberhasilan sebuah program tidak ditentukan oleh seberapa sering nama seseorang disebut, melainkan oleh seberapa jauh pekerjaan tersebut memberikan manfaat.
Di dunia olahraga, hasilnya dapat dilihat melalui perjuangan atlet yang berhasil mengibarkan Merah Putih. Dalam ASLINMAS, keberhasilan diukur melalui soliditas organisasi, meningkatnya kapasitas anggota, dan manfaat pemberdayaan ekonomi. Sementara dalam kehidupan sosial, ukuran keberhasilannya adalah tumbuhnya kepedulian dan hubungan yang semakin dekat dengan masyarakat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!