Teguh Subroto, Sosok Jaksa Humanis di Balik Pengabdian: Dari Ruang Penegakan Hukum, Perjuangan Atlet Disabilitas hingga Pemberdayaan Masyarakat
Minggu, 01 Nov 2026, 18:40 WIB | Oleh: Henri pelupessyKeberhasilan ini juga mendapat apresiasi Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah memberikan penghargaan berupa bonus kepada atlet peraih medali sebagai bentuk penghormatan negara atas perjuangan mereka mengharumkan nama Indonesia.
Bagi Teguh, keberhasilan atlet paralimpik tidak semata-mata tentang angka dalam klasemen. Lebih jauh, prestasi itu memperlihatkan bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti bermimpi, berlatih, dan meraih prestasi.
Memimpin Aslinmas, Memperkuat Perlindungan Masyarakat
Pengabdian Teguh Subroto juga menemukan ruang lain melalui organisasi kemasyarakatan. Pada 30 September 2026, ia dikukuhkan sebagai Ketua DPD Asosiasi Satuan Perlindungan Masyarakat (Aslinmas) Provinsi Jawa Tengah.
Amanah tersebut mempertemukannya dengan kekuatan masyarakat yang tersebar hingga tingkat desa dan kelurahan.
Jawa Tengah memiliki sekitar 243.543 anggota Satlinmas yang tersebar di 8.562 desa dan kelurahan. Sementara itu, keanggotaan ASLINMAS Jawa Tengah tercatat mencapai 75.738 orang dan menjadi yang terbesar secara nasional berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan pengukuhan.
Angka tersebut bukan sekadar statistik organisasi. Di dalamnya terdapat potensi sumber daya manusia yang selama ini berada paling dekat dengan kehidupan masyarakat.
Anggota Satlinmas memiliki peran penting dalam membantu menjaga ketertiban lingkungan, kesiapsiagaan menghadapi bencana, perlindungan masyarakat, menjaga lingkungan, serta mendukung program pemerintah.
Teguh melihat bahwa kekuatan organisasi tidak cukup hanya diukur dari jumlah anggota. Soliditas, profesionalitas, kapasitas, dan manfaat nyata bagi masyarakat harus menjadi perhatian.
Karena itu, penguatan Aslinmas perlu diarahkan agar anggota tidak hanya menjalankan fungsi perlindungan masyarakat, tetapi juga memiliki kesempatan meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan.
Gagasan tersebut memperlihatkan pendekatan yang lebih luas terhadap pembangunan masyarakat. Keamanan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan ketertiban, tetapi juga kondisi sosial dan ekonomi warga.
Masyarakat yang memiliki aktivitas produktif, hubungan sosial yang kuat, serta kemandirian ekonomi akan mempunyai modal lebih baik untuk menjaga lingkungan dan membangun ketahanan sosial.
Dari Perlindungan Masyarakat Menuju Kemandirian Ekonomi
Salah satu contoh konkret gagasan pemberdayaan tersebut terlihat melalui Setepeng Agrowisata Edukasi (SAE) di kawasan Sidorejo, Kelurahan Bergas Lor, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang.
Kawasan seluas sekitar 2,2 hektare itu dikembangkan sebagai ruang edukasi sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat. Di dalamnya terdapat peternakan ayam petelur, kolam budidaya ikan dengan sistem bioflok, serta greenhouse untuk kegiatan pertanian.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!