Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Riset Canggih, Unikorn Ditunggu: Siapkah Ekosistem RI?

29 Rabu, 28 Okt 2026, 22:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Riset Canggih, Unikorn Ditunggu: Siapkah Ekosistem RI? Riset Canggih, Unikorn Ditunggu: Siapkah Ekosistem RI? Doc: ANTARA FOTO/ Fauzan.
Ket. Ilustrasi - Pelajar mencoba fitur pembelajaran baru di program kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) Gemini Google, di Jakarta.

JAKARTA – Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Mohammad Fauzan Adziman menilai pengembangan teknologi berbasis riset membuka peluang lahirnya perusahaan rintisan berstatus unikorn di Indonesia.

Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam diskusi panel Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Rabu (28/10), dengan mencontohkan perkembangan perusahaan rintisan teknologi mendalam di Eropa.

"Di Eropa, perusahaan teknologi mendalam mencapai valuasi lebih dari satu miliar dolar AS (unikorn) dalam lima tahun tujuh bulan, atau dua tahun empat bulan lebih cepat," kata Fauzan.

Berdasarkan data PitchBook yang dirujuk McKinsey dan ditampilkan dalam paparannya, perusahaan rintisan teknologi mendalam di Eropa rata-rata membutuhkan lima tahun tujuh bulan untuk mencapai status unikorn, dibandingkan tujuh tahun 11 bulan bagi perusahaan rintisan teknologi konvensional.

Status unikorn merujuk pada perusahaan rintisan dengan valuasi sedikitnya satu miliar dolar AS atau sekitar Rp18,14 triliun.

Fauzan menjelaskan teknologi mendalam atau deep tech merupakan inovasi yang bertumpu pada penelitian ilmiah, memiliki keunggulan teknologi yang sulit ditiru, serta berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan usaha berskala besar.

"Teknologi mendalam memanfaatkan penelitian, sesuatu yang tidak mudah ditiru oleh industri lain, dan memiliki potensi untuk dikembangkan dalam skala besar," ujarnya.

Dalam paparannya, Fauzan menjelaskan keunggulan perusahaan teknologi mendalam antara lain berasal dari penguasaan kekayaan intelektual, teknologi yang sulit direplikasi, serta kemampuan menjawab kebutuhan jangka panjang.

Bidang yang berpotensi memanfaatkan pengembangan teknologi tersebut mencakup energi, pangan, dan kesehatan, yang membutuhkan inovasi untuk menjawab berbagai persoalan serta meningkatkan kemampuan industri.

Menurut Fauzan, peluang tersebut perlu diikuti penguatan kemampuan riset di Indonesia agar perusahaan tidak hanya bergantung pada teknologi yang sudah tersedia, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi sendiri.

"Di sinilah inovasi produk secara mandiri dan penelitian serta pengembangan bersama mulai berperan," ujar dia.

Ia menjelaskan pengembangan kemampuan industri perlu dilakukan secara bertahap, dari kegiatan produksi rutin dan penyesuaian teknologi menuju inovasi produk secara mandiri serta kerja sama penelitian dengan berbagai pihak.

Berdasarkan data pada 2022 dalam paparannya, porsi belanja penelitian dan pengembangan yang dilaksanakan sektor usaha di Indonesia tercatat sebesar 16,7 persen dari total belanja penelitian dan pengembangan nasional.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Taiwan sebesar 85,5 persen, Korea Selatan 79,4 persen, China 77,6 persen, dan Jepang 73,1 persen.

Fauzan menilai penguatan kegiatan riset di dunia usaha perlu disertai pengembangan sumber daya manusia, dukungan pembiayaan, dan kepercayaan investor agar hasil inovasi dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi.

"Kita perlu membangun dua hal dengan kuat, yaitu talenta, kemudian kepercayaan," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
Olahraga
Gagal di Tunggal, Fokus Jan...
Nasional
Kemenhub Siapkan Stimulus T...
Ekonomi
Hentikan Kebocoran, Audit B...
Advertisement
Balsa Borong Dua Gol untuk Kemenangan Persib Bandung 2-0 Atas Melbourne Victory

Balsa Borong Dua Gol untuk Kemenangan Persib Bandung 2-0 Atas Melbourne Victory

28 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.